RADAR JOGJA – Sosok Khoiry Nuria Widyaningrum memiliki semangat yang tinggi dalam dunia pendidikan. Nominal gaji bukanlah target utamanya. Bagi perempuan berusia, 36, ini skema dan konsep pendidikan di Indonesia jauh lebih penting.

Sejatinya warga Dusun Plaosan Kalurahan Tlogoadi Mlati Sleman ini memiliki kehidupan yang nyaman. Menjadi guru swasta bahkan memegang jabatan penting. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk mendaftar sebagai pegawai negeri sipil (PNS).

“Awalnya jadi guru di SD Muhammadiyah Sleman dari 2007 sampai 2015. Lalu 2015 sampai 2019 jadi Kepala Sekolah di SD Muhammadiyah Mantaran. Akhirnya 2019 keterima PNS di SDN Jetisharjo,” jelasnya ditemui di kediamannya, Rabu (15/9).

Nuri memilih untuk menanggalkan jabatannya karena merasa perlu berjuang dalam dunia pendidikan. Terutama untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah negeri. Tentunya dengan berbagi pengalamannya saat masih berada di sekolah swasta.

“Sangat beda sekali suasananya. Dukungan dari suami dan orangtua saya sangat kuat. Sehingga saat ada bukaan PNS, saya langsung mendaftarkan diri,” katanya.

Jiwa pendidikan ini dia tanamkan dalam dunia wisata. Terbukti dengan berdirinya kampung Flory. Konsep desa wisata ini menggabungkan antara wisata pertanian dan edukasi pendidikan.

Konsep ini mendapat lampu hijau dari Pemerintah Kabupaten Sleman. Bahkan bupati kala itu Sri Purnomo turut meresmikan Kampung Flory. Hingga akhirnya secara bertahap berkembang dan muncul kuliner Bali Ndeso dan outbond.

“Waktu itu outboundnya pendidikan berkarakter. Jadi kami menangkap peluang dana BOS yang untuk kunjungan luar sekolah. Nah jadi tripnya ke Flory tapi di sinkronkan dengan materi pembelajaran di semester itu,” katanya.

Konsep desa wisata ini mendapatkan respon yang baik dari warga. Terbukti dengan membludaknya kunjungan setiap harinya. Hingga akhirnya Kampung Flory menjadi ikon wisata pertanian, pariwisata, budaya dan pendidikan.

Aktivitas lain, Nuri aktif di Komunitas Gerakan Sekolah Menyenangka (GSM) sejak 2016. Kelompok ini wujud kolaborasi dengan pakar Psikologi dari UGM Jogjakarta. Konsep yang disajikan mirip dengan program Merdeka Belajar di Kementerian Mendikbudristek.

“Konsepnya, sebagai guru itu tujuannya menuntut kodrat anak, bakat potensi anak untuk mencapai kebahagian setinggi-tingginya. Masalahnya selama ini terkungkung di kurikulum materi. Padahal budi pekerti, karakter itu yang menjadi tujuan utama,” ujarnya.

Dalam GSM, guru, lanjutnya, ditantang keluar dari zona nyaman. Mau keluar dari pola pikir dan sistem feodalisme. Konsep ini diakuinya tidaklah mudah. Terlebih Indonesia telah cukup lama mengusung kurikulum yang cukup usang.

Konsep inipula yang dia temukan dalam program Merdeka Belajar. Mengembalikan skema pendidikan sesuai filosofi Ki Hadjar Dewantara. Tak hanya mengandalkan buku tapi juga menguatkan kemampuan kognitif.

“Dulu itu saya ngajarnya juga cuma akademik oriented cuma ranking nilai yang diperhatikan. Setelah tersadar filosofi Ki Hadjar itu akhirnya saya mengubah ini sebagai rumah belajar yang unik. Makanya itu cara unik belajar asik,” katanya.

Rumahnya juga turut menjadi rumah bagi para pendidik dan siswa. Bedanya konsep yang ditawarkan berupa filosofi Ki Hadjar Dewantara. Sehingga tak hanya berorientasi pada nilai tapi proses.

Nuri juga tak terlalu mengejar profit dalam gerakan ini. Memanfaatkan gazebo kecil untuk tempat belajar. Sistem pembayaran sesuai kemampuan ekonomi keluarga sang siswa.

“Jadi tidak harus mengejar nilainya 8 atau 9 tetapi proses. Jadi di awal itu pasti kedekatan tentor dengan anaknya itu interaksinya kayaknya itu menjadi fokus. Anak sekitar sini ada yang les itu tak gratiskan. Ada skemanya, yang mampu hanya 50 persen dari bayarnya,” ujarnya.(dwi/sky)

Sleman