RADAR JOGJA – Kedatangan  Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem  Anwar Anwar Makarim, menjadi momen menumpahkan uneg-uneg. Khoiry Nuria Widyaningrum menyampaikan semua keluh kesahnya tentang dunia pendidikan. Terutama terkait profesinya sebagai guru.

Perempuan berusia, 36, ini awalnya menanyakan konsep program guru penggerak. Lalu evaluasi setelah program ini berjalan. Hingga tujuan akhir dari program dari Kemendikbud Ristek tersebut.

“Harus ada follow up to pak. Saya nyinggung terkait dengan komunitas, ini nek enggak dibikinkan wadah eman-eman. Karena kedepan program ini sudah bagus banget,” jelasnya ditemui di kediamannya di Dusun Plaosan, Kalurahan Tlogoadi Mlati Sleman, Rabu (15/9).

Guru SDN Jetisharjo Sleman ini bercerita sedikit tentang program guru penggerak. Konsepnya adalah membangun jiwa pemimpin dari setiap guru. Arahnya menjadi sosok kepala sekolah, dewan pengawas bahkan kepala dinas.

Peserta dari program ini harus menjalani pendidikan dan pelatihan selama 9 bulan. Menurutnya, durasi waktu ini sangatlah lama. Membuktikan adanya keseriusan dalam program yang disusun oleh sang Menteri ini.

“Saya baru merasakan satu bulan sebenarnya ikut itu. Internalisasi nilai-nilainya itu kerasa banget. Tapi saya juga mengutarakan beberapa masukan juga, harus ada wadah komunitas kemudian harus ada komunikasi yang intens antara leader-leader biar enggak miss gitu,” katanya.

Nuri dan keluarganya membuka perbincangan tanpa merasa canggung. Dia menilai Nadiem sosok yang sangat terbuka. Dari obrolan santai hingga tentang kebijakan terus mengalir tanpa beban.

Nadiem, lanjutnya, mengakui tak mungkin semua program dapat berjalan sesuai ekspektasi. Namun upaya mengejar target tetap ada. Tentunya dengan melaksanakan evaluasi berkala untuk setiap program yang berjalan.

“Makanya nanti di setiap angkatan akan diperbaiki terus. Dari sini saya jadi tahu ternyata guru penggerak itu untuk menyiapkan kader-kader pemimpin, harus siap menjadi kepala sekolah, pengawas atau kepala dinas,” ujarnya.

Nadiem berpesan agar setiap guru memiliki target dan proyeksi jangka panjang. Termasuk menjadi seorang pemimpin dalam bidang pendidikan. Selain itu juga terus meningkatkan kualitas diri dalam dunia pendidikan.

“Biar sekolah-sekolah itu dipegang oleh guru-guru yang memang sudah terseleksi. Kemarin (guru penggerak)  juga seleksinya sangat ketat kan. Jadi memang orang-orang terpilih,” katanya.

Adapula program merdeka belajar. Konsep utama adalah memberi motivasi kepada para guru-guru. Terkait kualitas pendidikan yang diberikan ke anak didiknya.

Dengan mengembalikan fitrah pendidikan. Tidak hanya berbicara tentang akademik tapi juga menuntun kodrat. Dengan tujuan untuk mencapai kebahagaian dan keselamatan buat para siswa.

“Harus berhamba pada siswa, kepentingan siswa harus nomor satu. Konsepnya memang memerdekakan dan mengembalikan fitrah pendidikan. Obrolan-obrolan ini sangatlah menarik,” ujarnya.

Semangat ini tentu sudah mendarah daging di tubuh Nuri. Apalagi hampir seluruh keluarganya berprofesi sebagai guru. Mulai dari suami, orangtua hingga mertua bahkan kakeknya.

“Tiga generasi ini guru semua. Nah unik lagi itu kemarin anak saya itu ditanya sama Mas Menteri cita-citanya apa? Guru. Ya itu jadi memang kami keluarga guru. Makanya selalu semangat kalau bicara pendidikan,” katanya.(dwi/sky)

Sleman