RADAR JOGJA – Komite Nasional Keselamatan Tranportasi melakukan review atas kecelakaan di jalan tanjakan Breksi Prambanan. Hasilnya ada sejumlah ketidaklayakan terutama di armada kendaraan. Berupa ketidaksesuaian spesifikasi kendaraan terhadap karakter jalan.

Plt Ketua Sub Komite LLAJ KNKT, Ahmad Wildan menyampaikan hasil analisa geometrik. Pengamatan juga menggunakan perhitungan spesifikasi teknis kendaraan. Ada sejumlah fakta yang memastikan penyebab kecelakaan adalah kelalaian.

“Jalur tebing Breksi adalah jalan yang sangat beresiko, dengan jarak sepanjang 1,83 kilometer. Memiliki perbedaan ketinggian 191 meter dan grade maksimal 35 persen. Ini geometrinya,” jelas Ahmad Wildan dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu (8/9).

Sementara untuk truk Isuzu merupakan jenis Light Truck. Jenis kendaraan angkut ini hanya memiliki kemampuan torsi melewati turunan dan tanjakan sebesar 25 persen. Kekuatan torsi kendaraan ini tak sepadan dengan kondisi geometri tanjakan Tebing Breksi.

Wildan memaparkan jika supir menggunakan persneling 2, kendala ada di pengereman. Kampas rem, lanjutnya, tidak akan mampu menahan gesekan dengan tromol. Alhasil suhu sektor pengereman menjadi tinggi dan terjadi rem blong.

“Panas yang dihasilkan dari gesekan kampas dan tromol dapat dipastikan akan terjadi brakefading atau rem blong,” papar Plt Ketua Sub Komite LLAJ KNKT, Ahmad Wildan.

Kondisi tak jauh berbeda jika menggunakan persneling 1. Mesin truk akan over running karena kemampuan torsi dibawah ketentuan. Temperatur mesin akan naik dengan cepat dan diikuti dengan kerusakan mesin. Kerusakan terparah adalah mesin meledak.

Dalam kondisi tersebut, supir akan mencoba memindahkan perseneling. Wildan menganalisis tindakan ini sebagai tindakan dasar para supir. Hanya saja dalam kecelakaan tanjangan Breksi, kondisi jalan berbeda.

“Masalahnya perpindahan gigi pada jalan menurun akan gagal dan masuk ke gigi netral. Posisi netral ini bisa terjadi baik pada saat pengemudi menggunakan gigi 2 dan akan berpindah ke 1 maupun sebaliknya,” analisanya.

Berdasarkan analisa tersebut, Wildan memastikan penyebab kecelakaan adalah kelalaian. Tepatnya penggunaan kendaraan yang melampaui kemampuan teknisnya. Kondisi ini bisa terjadi pada siapapun apabila jenis kendaraan tak sesuai.

“Sekalipun itu kendaraan baru dan pengemudinya high skill tetap akan terjadi kegagalan karena kemampuan teknis kendaraannya jauh dibawah kondisi geometrik jalan,” ujar Ahmad Wildan.

Pihaknya memberikan sejumlah rekomendasi kepada Dishub Sleman. Berupa pelarangan truk masuk rute tanjakan Breksi. Terutama truk konvensional dengan kemampuan torsi di jalanan tanjakan maupun turunan dibawah 30 persen.

Jenis truk ini merupakan kendaraan angkut yang kerap digunakan masyarakat. Sementara truk dengan kemampuan torsi diatas 30 persen kerap digunakan di daerah tambang. Seperti truk yang digunakan di wilayah pertambangan di daerah Papua.

“KNKT juga meminta agar ada inventarisasi daerah lainnya. Karena karakter jalan serupa tidak hanya di Breksi saja. Ini harus diantisipasi agar kecelakaan serupa tak terjadi,” pesannya.

Kepala Dishub Sleman Arip Pramana menuturkan investigasi atas kecelakaan tanjakan Breksi masih berlangsung. Pihaknya berkomunikasi dengan KNKT untuk kepentingan analisa. Terutama karakter geometri jalan dan spesifikasi kendaraan.

Kawasan Breksi diakui olehnya cukup ramai perlintasan kendaraan angkut. Baik jenis truk maupun kendaraan pick up. Ini karena kawasan tersebut menjadi sentra konstruksi kayu dan batu.

“Batasan muat, kalau jenis pick up itu 2.500 kilogram. Kalau truk kecelakaan kemarin masih dibawah, sekitar 1 ton. Kendaraan lama itu kalau enggak salah 2004,” kata Plt Ketua Sub Komite LLAJ KNKT, Ahmad Wildan.

Truk sempat menjalani uji kelayakan kendaraan. Data terakhir menyebutkan pengujian pada 2019. Hasilnya uji kelayakan berlangsung rutin hingga 2019.

“Kalau data terakhir pengujian 2019. Balik nama kepemilikan, data yang kami punyai sampai 2019 untuk uji berkalanya. Plat nomernya alih kepemilikan,” ujar Plt Ketua Sub Komite LLAJ KNKT, Ahmad Wildan. (dwi/sky)

Sleman