RADAR JOGJA – Kecelakaan truk bermuatan batu terjadi di jalan menuju Tebing Breksi di Gunungsari, Sambirejo, Prambanan, Sleman, Jumat malam (3/9), sekitar pukul 19.30. Kecelakaan itu menewaskan enam orang. Dugaan sementara truk mengalami rem blong dan sopir yang belum menguasai medan.

Keenam korban yang meninggal adalah Wahdini, Imam, Suprapto, Ali Fahrudin, Heri, dan terakhir korban yang meninggal adalah Misbah. Nyawa Misbah tak bisa diselamatkan meski sudah mendapat perawatan. Misbah meninggal menjelang jelang tengah malam. Semuanya berasal dari Dusun Daraman, Srimartani Piyungan Bantul.

Truk sedang mengangkut batu dari Dusun Groyokan. Keperluannya untuk membuat taman di Dusun Daraman, Srimartani Piyungan Bantul. Beberapa korban duduk di atas batu di bak terbuka.Banyaknya korban meninggal dikarenakan banyak yang menumpang di atas kendaraan yang bermuatan batu taman tersebut. Saat kejadian,dua penumpang terlempar saat truk menabrak pagar. Keduanya langsung meninggal dunia di tempat. Lalu ketiga korban meninggal dunia lainnya karena mengalami luka berat di kepala. “Rata-rata luka kepala berat akibat benturan terhempas dari truk dan terkena bebatuan tersebut,” kata Kanit Laka Polres Sleman Iptu Galan Adid Darmawan ditemui di lokasi kecelakaan, Jumat malam (3/9).

Pantauan Radar Jogja, Sabtu siang (4/9), masih tampak sisa-sisa reruntuhan pagar yang ditabrak truk tersebut. Wakijo salah seorang saksi mata mengatakan awalnya ia mendengar benturan keras.Benturan itu diduga saat bagian depan truk menghantam pagar yang terbuat dari batako. Setelah mendengar bunyi yang cukup keras itu Wakijo langsung keluar untuk melihat kondisi. “Waktu itu saya termasuk yang pertama ke lokasi, sudah ada orang-orang yang tergeletak, katanya.

Lokasi kejadian terjadi di turunan yang sangat tajam dan berkelok. Jika kondisi kendaraan tidak prima, ataupun kondisi pengendara yang tidak terlalu paham medan itu bisa sangat membahayakan.

Sementara itu, Kabid Humas Polda DIJ Kombes Pol Yuliyanto menyatakan, diduga, truk tersebut mengalami rem blong saat jalan menurun. Namun, untuk kepastian penyebab kecelakaan masih terus didalami. Sampai saat ini pemeriksaan kepada para korban belum bisa dilakukan. Termasuk sopir yang mengalami luka. “Masih syok,” katanya di Mapolda DIJ.

Yuli menjelaskan, jalan yang dilalui truk tersebut merupakan jalan umum. Masyarakat biasa melaluinya termasuk untuk wisata ke Tebing Breksi. Namun menurut informasi, sopir tersebut baru dua kali melintas sambil membawa kendaraan berat di jalan itu. “Sopir informasinya melewati rute itu baru dua kali. Ada kemungkinan sopir tidak mengenal medan bisa saja yang bersangkutan (jadi penyebab) kecelakaan,” ujarnya.

Yuli memaparkan ada sejumlah temuan dari pemeriksaan sementara. Salah satunya adalah patahnya as roda truk. Penyidik menduga inilah yang membuat truk limbung dan susah dikendalikan. “Laik jalan membutuhkan pemeriksaan dari dinas yang berkompeten. Yang jelas kerusakannya as (roda) patah,” kata Kapolres Sleman medio 2016 itu.

Kepala Dusun Daraman Syamsul Arifin menuturkan korban kecelakaan tanjakan Breksi adalah pengurus Pokdarwis Dusun. Kepergian ke kawasan Breksi untuk mengambil batu alam. Rencananya untuk menjadi hiasan di objek wisata Bulak Umpeng. Para korban, lanjutnya, sepakat untuk kerja bakti mengambil 10 set batu alam. Hasil koordinasi akhirnya disepakati delapan pria dewasa berangkat. Adapula seorang anak dan supir beserta kernetnya. “Nah kebetulan tadi malam ditelpon sudah jadi tempat duduknya 10 set. Kami koordinasi di grup siapa yang ikut kerja bakti silakan ikut hadir di Bulak Umpeng setelah habis maghrib,” jelasnya ditemui di Bulak Umpeng.

Setelah disepakati, kesebelas orang tersebut langsung menuju kawasan Dusun Groyokan Sambirejo Prambanan. Lokasi ini berada diantara Tebing Breksi dan Candi Ijo. Sebanyak 10 set batu langsung dimasukan ke dalam bak truk.

Setelah batu terangkut, truk mulai meninggalkan lokasi tambang sekitar pukul 19.00. Tidak jauh dari pintu keluar, truk langsung limbung. Hingga akhirnya meluncur ke jalan turunan dan menabrak dinding pagar milik warga.

“Setelah keluar dari lokasi itu di Candi Ijonya, turun kurang dari dua menit terjadi kecelakaan. Lokasinya memang sangat curam,” katanya.

Syamsul menjelaskan pengambilan batu alam bukanlah kali pertama. Dengan truk dan supir yang sama sudah mengambil batu alam. Untuk kemudian dijadikan tempat duduk di Bulak Umpeng.

Terkait muatan, Syamsul mengakui cukup berat. Untuk satu batu ukuran satu meter memiliki berat sekitar 50 kilogram. Satu set batu berisikan tiga batu dengan ukuran yang sama. “Kalau bicara akomodasi kendaraan error kami kurang paham karena ketika digunakan ke sana kalau bermasalah dari awal harusnya sudah bermasalah. Kami menyebutnya musibah,” ujarnya. (dwi/kur/pra)

Sleman