RADAR JOGJA – Ada yang berbeda di trek wisata tepatnya di aliran Kali Kuning. Lokasi yang biasa menjadi uji adrenalin pecinta wisata ini menjadi tempat upacara bendera HUT Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke-76. Para pesertanya adalah perwakilan pemandu wisata yang tergabung dalam Asosiasi Jeep Wisata Lereng Merapi (AJWLM).

Suasana upacara bendera berbeda dengan peringatan Kemerdekaan Indonesia pada umumnya. Pemilihan lokasi menjadi daya tarik tersendiri. Kendaraan wisata berjejer dengan para pemandu berdiri di masing-masing kendaraannya. Upacara baru dimulai tepat 10.00 WIB.

“Upacara dalam rangka HUT ke 76 Indonesia. Biasanya di bungker Kaliadem, sudah dari 2013 tapi karena saat ini Merapi erupsi dan masih level 3 siaga sehingga cari jarak aman lebih dari 5,5 kilometer. Kali Kuning ini jaraknya 9 kilometer,” jelas Ketua AJWLM sisi barat Dardiri ditemui di lokasi upacara bendera, Selasa (17/8).

UPACARA: Lokasi yang biasa menjadi uji adrenalin pecinta wisata ini menjadi tempat upacara bendera HUT UPACARA BENDERA: Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke-76. (DWI AGUS/RADAR JOGJA)

Tak ada pakaian formal dalam upacara bendera ini. Para pemandu wisata mengenakan seragam sesuai identitas komunitasnya masing-masing. Merapi terlihat beberapa kali memuntahkan awan panas, namun tak mengurangi suasana khidmat upacara bendera.

Upacara bendera ini sekaligus menjadi ajang srawung para pemandu wisata. Wajar saja, mereka sudah libur sejak penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Seiring dengan penutupan lokasi wisata yang berimbas pada sepinya kunjungan wisata di lereng Gunung Merapi.

Upacara bendera berlangsung dengan protokol kesehatan Covid-19. Berupa pembatasan jumlah peserta yang hadir. Terbukti setiap asosiasi hanya diwakilkan oleh personelnya. “Sudah sekian lama tidak mengadakan event, kebetulan dalam suasana bahagia maka kami sepakat adakan upacara bendera. Kalau total ada 29 komunitas, tapi yang datang perwakilan saja agar tak terjadi kerumunan,” katanya.

Melalui upacara ini, Dardiri juga berharap kondisi kembali normal. Setidaknya kebijakan pemerintah dapat berpihak kepada pelaku wisata. Sehingga upaya menekan sebaran virus dan roda perekonomian tetap dapat berjalan selaras.

“Saat ini sedang PPKM, jadi aktivitas benar-benar berhenti. Jikalau ada, wisatawan harus sudah tervaksin. Hanya satu dua aktivitas saja,” ujarnya.

Ketua AJWLM sisi timur Bambang Sugeng menilai upacara bendera menjadi ajang refleksi. Kondisi saat dihadapkan oleh bencana alam dan non alam. Berupa erupsi Gunung Merapi dan pandemi Covid-19. Kondisi ini berimbas signifikan terhadap dunia wisata di lereng Merapi. Dia membenarkan bahwa aktivitas AJWLM berhenti total. Tak hanya itu, sektor wisata pendukung juga tiarap.

“Saat ini kami dihadapkan dengan erupsi Merapi dan Covid-19. Jeep wisata ini menghidupi 6.000 lebih kepala (warga). Dsri driver, tukang foto, pernak-pernik hingga warung. Semua berhenti,” katanya.

Momentum upacara bendera sekaligus menjadi tonggak. Membuktikan bahwa para pelaku wisata lereng Merapi tetap eksis. Meski untuk sementara waktu tak bisa beraktivitas secara normal. “Dengan semangat 76 Kemerdekaan Indonesia, bersama warga lereng Merapi bahwa jeep masih ada dan eksis. Kami menunggu Covid-19 pudar dan Merapi reda. Agar pulih kembali bisa menikmati aktivitas lereng Merapi,” ujarnya. (dwi/ila)

Sleman