RADAR JOGJA – Aksi diam yang dilakukan oleh K@mu (Koalisi Masyarakat untuk Udin) dan beberapa jurnalis digelar di depan Polda DIJ. Aksi yang rutin digelar pada16 Agustus ini menuntut pemerintah untuk tegas menyelesaikan kasus terbunuhnya wartawan Harian Bernas Fuad Muhamad Syafruddin.

Aksi diam yang dilakukan oleh K@mu (Koalisi Masyarakat untuk Udin) dan beberapa jurnalis ini dilakukan dengan menaati protokol kesehatan. Mereka yang tergabung dalam aksi diam berdiri selama 25 menit dengan membawa foto ilustrasi Udin bertuliskan angka tahun 1996 hingga 2021 pada Senin (16/8).

Walau sudah memasuki tahun ke 25, namun kasusnya tak kunjung selesai. Belum ada tersangka yang diadili. “Ketidakseriusan itu tegambar pada sejumlah janji pemimpin daerah hingga pusat untuk mengungkap kasus kejahatan Hak Asasi Manusia itu,” jelas koordinator K@mu Tri Wahyu KH.

Selain aksi diam, mereka juga menyerahkan karangan bunga bertuliskan ’25 Tahun Kasus Udin, Turut Berduka Cita Atas Matinya Keadilan di Indonesia’ dan berkas berupa kliping pemberitaan kasus Udin kepada Kepolosian Daerah Jogjakarta.

UNTUK UDIN: Walau sudah memasuki tahun ke 25, namun kasus Udin tak kunjung selesai. (AKHIDA RUKHUL QISTHI FOR RADAR JOGJA)

“Kami akan mengatakan kalau kita harus terus mendesak pemerintah untuk menyelesaikan kasus ini, apapun itu, kita nggak akan berhenti sampai kemudian kasus ini diselesaikan,” ungkap  ketua AJI (Aliansi Jurnalis Independen) DIJ Shinta Maharani yang turut hadir saat itu.

Dampak dari tidak terselesaikannya kasus Udin terhadap situasi sekarang ialah membahayakan kerja-kerja jurnalis. Hal itu merupakan potret buram kebebasan pers di Indonesia. Peningkatan kasus kekerasan terhadap jurnalis juga terjadi pada masa kepemimpinan presiden Joko Widodo.

AJI mencatat sebanyak 84 kasus terjadi pada tahun 2020, meningkat dibanding tahun sebelumnya yaitu sebanyak 54 kasus. Pentingnya kasus ini jika terungkap disampaikan oleh ketua AJI, Shinta Maharani memaparkan “Jika kasus ini terungkap, maka akan menjadi contoh bahwa Indonesia miliki kepedulian untuk menyelesaikan kasus besar (dark number),” paparnya. (om2/ila)

Sleman