RADAR JOGJA – Pembelajaran tatap muka (luring) sudah sangat dirindukan oleh pelajar dan orang tua. Namun penularan Covid-19 masih tinggi di Kabupaten Sleman. Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level empat pun masih diperpanjang. Pemerintah belum memastikan kapan pembelajaran luring dapat digelar.

Pengamat Pendidikan UIN Sunan Kalijaga Khamim Zarkasih Putro mengatakan, hal ini menjadi sesuatu yang mustahil bila pembelajaran luring dilaksanakan. Meski PPKM secara Nasional hanya sampai 16 Agustus. Jika penambahan kasus positifnya semakin tinggi, tidak dipungkiri PPKM akan kembali berlanjut.”Karena gelombang ke dua virus Covid-19, varian delta ini dipandang jauh lebih mengkhawatirkan,” katanya, Rabu (11/8).

Beberapa waktu lalu, kasus aktif Covid-19 di DIJ melebihi indeks rata-rata nasional. Bahkan pernah mengantongi peringkat pertama di dunia. Dikatakan, Indonesia sekarang paling serius mendapatkan serangan virus. Covid-19. Dilihat dari grafiknya, lanjut Khamim, penambahan kasus per harinya di DIJ masih tinggi. Melampaui dua kali lipatnya nasional. ”Sehingga saya kira wacana untuk luring menjadi sesuatu yang agak sulit. Karena kalau tidak berhati-hati dampaknya bisa fatal,” sambungnya.

Selain itu, cangkupan vaksinasi di Sleman masih rendah. Khususnya untuk pelajar. Belum semua pelajar mendapatkan jatah vaksin. Vaksin prioritas baru menyasar anak berusia minimal 12 tahun. “Idealnya, semua warga berapapun umurnya ya divaksin. Tetapi kan segenap keterbatasan kesediaan vaksin dari pusat,” ujarnya.

Disinggung terkait perampingan kurikulum pembelajaran, menurutnya diperlukan. Sebab, pembelajaran bagi siswa saat ini kondisinya begitu sulit dan cenderung tidak merata. Karena tidak semua siswa memiliki fasilitas semestinya. Sehingga tidak dapat mengikuti pembelajaran dengan baik. “Kalau ini tidak ditata dengan bagus, di masa mendatang akan ada generasi yang hilang. Ini mengkhawatirkan dan menjadi keprihatinan bersama. Namun formulanya bagaimana kita butuhkan pemikiran stakeholder bersama-sama,” ujarnya.

Sementara itu di kejenuhan belajar siswa harus tetap diantisipasi. Cranya, dengan berbagai metode pembelajaran dan pendampingan orang tua. Oleh karena itu orang tua berperan ganda. Selain bekerja juga menjadi guru bagi anaknya. ”Sudah satu setengah tahun. Rasanya pembelajaran luring masih jauh dari angan,” ucap Rani Hidayah, 37, Warga Tempel Rabu (11/8).

Setiap hari dia harus berjibaku memberikan arahan pembelajaran pada anaknya yang tengah duduk di kelas dua sekolah dasar. Selain itu dia juga harus belajar agar bisa membantu mengerjakan tugas sang anak. (mel/pra)

Sleman