RADAR JOGJA – Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo mengklaim, kasus penularan Covid-19 di Kabupaten Sleman mengalami penurunan. Pada Juli, penambahan kasus per harinya di atas 500. Pada pertengahan Agustus angkanya turun di bawah 500.

Kendati penurunannya belum signifikan, Kustini mendorong masyarakat agar tidak lengah dengan protokol kesehatan (prokes). Hal yang paling pokok dengan 5M. Mencuci tangan dengan sabun, memakai masker, menjaga jarak, menjahui kerumunan dan mengurangi mobilitas. Berikutnya, mengikuti program vaksin. Sebagai upaya meminimalisir risiko tertular Covid-19.

Kasus penurunan juga dilihat dari keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) rumah sakit. Dari sebelumnya mencapai 90-100 persen, kini menurun 65-70 persen. Selain itu capaian vaksinasi telah mencapai 40 persen dari penduduk Sleman. Terdiri dari tenaga medis, tenaga kesehatan (nakes), petugas pelayanan publik, dan para lanjut usia (lansia). Target peserta vaksin juga sudah diperluas menyasar pelajar usia 12-17 tahun, pra lansia dan lansia serta ibu hamil dengan syarat tertentu.”PPKM bukan untuk menyengsarakan masyarakat. Ini sebagai upaya serius pemerintah, memutus mata rantai korona, dari aspek kesehatan,” ujar Kustini, Rabu (11/8).

Di Kapanewon Gamping, penambahan kasus positif Covid-19 masih fluktuatif. Akan tetapi, jumlah kematian akibat Covid-19 berkurang. Panewu Gamping Ikhsan Waluyo mengatakan, jika Juli angka kematian akibat Covid-19 bisa mencapai enam orang perhari, pada pertengahan Agustus ini mulai jarang ditemui kasus tersebut.

Pihaknya bersama Gugus Tugas tingkat Kapanewon hingga RT/RW bekerja sama dengan Puskesmas dan TNI/Polri melakukan pendataan. Menyisir warga kontak erat, warga postif baik bergejala ataupun tidak. Nah warga isolasi mandiri (isoman) berkomorbid dipindahkan ke isoter terdekat. Yakni di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (Unisa). ”Demikian juga untuk mereka yang belum vaksin. Pendataan digencarkan,” katanya. Disebutkan, saat ini ada 700 isoman di kapanewon tersebut. beberapa diantaranya telah dipindahkan ke isoter.

Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Makwan menyebut, kasus kematian isolasi mandiri (isoman) cenderung menurun. Jika dua minggu sebelumnya kasusnya di atas 30 dalam sehari, seminggu terakhir ini kasus meninggal isoman rata-rata sudah melandai. “Di bawah 10 (kasus, red),” kata Makwan, kemarin (10/8).

Namun, tidak bisa dipungkiri isoman di Sleman masih tinggi jika dibandingkan isoter. Dari tujuh shelter isoman yang dikelola pemerintah, hanya 30 persen yang ditempati. “Masih banyak, isoman menolak isoter,” kata Makwan.

Mereka yang meninggal isoman mayoritas kondisi buruk. Saat kondisi mengalami pemburukan, baru dilarikan ke faskes. Meski telah mendapatkan perawatan dari nakes, namun nyawanya tidak dapat tertolong. “Hal seperti ini masih banyak. Karena menolak di awal. Kasusnya variatif,” ujarnya.

Demikian juga isoman yang tidak terbuka. Mereka isoman tetapi tidak melaporkan kepada gugus tugas setempat. Sehingga tidak terpantau, akhirnya kondisi memburuk dan meninggal. “Ini juga banyak,” kata dia.

Nah, dia berharap masyarakat agar tidak ragu ke isoter apabila terkonfirmasi Covid-19. Khususnya bagi yang memiliki riwayat komorbid. Dia meyakinkan kepada masyarakat, bahwa menjalani isolasi di shelter terpadu itu akan dimuliakan. Kebutuhan makan disiapkan. Fasilitas kesehatan tersedia, tenaga kesehatan dan obat-obatan juga ada. “Mereka akan terpantau. Termasuk kebutuhan oksigen,” katanya. (mel/pra)

Sleman