RADAR JOGJA – Bangunan ruko di Jalan Palagan, Padukuhan Panggungsari, Kalurahan Sariharjo, Ngaglik, disulap menjadi selter. Selter akan digunakan untuk warga yang terkonfirmasi positif Covid-19. Beberapa atapnya tampak rusak, tetapi inilah bangunan satu-satunya yang dapat dijadikan selter lantaran sulitnya mencari tempat isolasi.

MEITIKA CANDRA LANTIVA, Sleman, Radar Jogja

Suara bising kendaraan yang lalu lalang, memecah keheningan selama isolasi. Nyaman tak nyaman, semua harus diterima. Meski isolasi 14 hari bukan perkara mudah. Namun, inilah satu-satunya upaya yang dapat dilakukan untuk memutus mata rantai persebaran Covid-19.

“Kami memanfaatkan ruko-ruko dagang untuk dijadikan selter bagi warga isolasi mandiri (isoman) yang tempat tinggalnya tidak memadahi,” ungkap Ketua Satgas Kalurahan Sariharjo Aris Mawardi (1/8).

Tidak memadahi yang dimaksud, warga positif masih satu rumah dengan anggota keluarga yang negatif. Kamar mandi masih jadi satu. Aktivitas di dalam rumah tidak ada penyekatan, sehingga rawan penularan. “Kondisinya memang begini,” katanya. Meski beberapa bagian depan tampak rusak, tidak pada bagian dalam. Layak ditempati.

Ruko berukuran cukup luas. Di dalamnya sudah dilengkapi fasilitas tempat tidur. Lalu meja kursi dan ada toiletnya. Meski sederhana, sudah sesuai syarat selter, sebagaimana aturan pemerintah.

“Sebenarnya ada 20 kios. Tetapi hanya tujuh kios saja yang beroperasi. Enam untuk isolasi warga. Satu kantor pengawas. Kami berkoordinasi dengan Puskesmas Ngaglik II dalam pelayanan kesehatan,” ungkapnya.

Selter itu jauh dari lingkungan warga. Begitu keluar, jalan raya. Di depan masing-masing kios selter terdapat keran air. Deretan kios yang menghadap ke barat itu diberi sekat membentuk bilik. Bagian depan kios diberikan penutup, agar tidak terpapar cahaya matahari senja.

Persiapan selter seminggu lebih. Namun selter masih kosong. Belum juga diminati. Adapun warga yang bersedia dipindahkan ke selter, namun di selter milik Pemkab Sleman, yakni di Rusunawa Gemawang dan Asrama Haji wilayah Mlati.

Sebenarnya, kata Aris, ruko ini menjadi pilihan terakhir. Lantaran sulitnya mencari selter. Sebelumnya ada dua penawaran, rumah pribadi dan kos-kosan. Namun ketika disebutkan peruntukannya bagi warga isoman terkonfirmasi positif Covid-19, pemiliknya langsung menolak.

“Kalau pun ada, harus sewa. Biayanya Rp 25 juta satu rumah,” kata Aris. Menurutnya, cost tersebut tinggi. Sementara masih banyak kebutuhan untuk penanganan pandemi lainnya.

Ruko yang merupakan bagian dari kas desa kini dimanfaatkan selter. Sebelumnya sudah lama selter ini menganggur. Selama pandemi masa sewa kios habis. Sementara penyewa tidak memperpanjang masa kontrak. “Ya, kita manfaatkan,” ujarnya mengulang.

Baharuddin Kamba, warga Kalurahan Sariharjo mengatakan, kecenderungan warga memilih melakukan isoman di rumah bukan tanpa alasan. Karena rumah lebih nyaman dibandingkan selter. Apalagi, fasilitas selter, sarana dan prasarana kurang memadahi.

Hal itu dapat menjadi salah satu penyebab warga terkonfirmasi positif menjadi kurang terbuka. Ada kekhawatiran, ketika jauh dari keluarga justru tidak tenteram. Di samping itu karena fasilitas yang kurang memadahi tadi. Meski, fasilitas kesehatan dan logistik dipastikan terjamin ketika mau dipindahkan ke shelter.

“Harusnya pemerintah memberikan apresiasi bagi mereka yang mau dipindahkan ke selter. Paling tidak fasilitas yang memadahi,” katanya. Aktivis Jogja Corruption Watch (JCW) ini mendorong pemerintah segera mencairkan danais kepada pemerintah kalurahan. Sehingga pemanfaatannya dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhan selter yang belum layak. (laz)

Sleman