RADAR JOGJA – Kebijakan pemerintah memindahkan warga terkonfirmasi positif ke selter isolasi bukanlah perkara mudah. Faktanya, warga lebih memilih isolasi mandiri (isoman) di rumah. Kendala lain, belum semua kalurahan memiliki selter.

Sebagaimana terjadi di Kalurahan Tlogoadi, Mlati, Sleman. Kurang lebih 180 warga terkonfirmasi positif, menjalani isoman. Baik bergejala ringan maupun berat. Toh jika mau dipindahkan ke selter, hanya sebagian kecil. Kalurahan juga belum tersedia selter. Selter, masih menggabung dengan Kapanewon Mlati. Memanfaatkan rumah dinas Panewu Mlati. Itu pun hanya menampung dua bed pasien.
”Ya, sebagian ada yang ke selter kabupaten. Tetapi tidak bisa memaksakan, itu pun tergantung ketersediaan selter,” ungkap Ketua Satgas Covid-19 Kalurahan Tlogoadi Riswanto kepada Radar Jogja di kantornya, Jumat (30/7).

Upaya membujuk warga sudah dilakukan. Mencari selter juga dilakukan. Tetapi nihil. Tidak ada bangunan yang memenuhi syarat dijadikan selter kalurahan. Gedung serbaguna di kalurahan tak layak dijadikan selter. Karena belum ada toilet yang mendukung. ”Kalau harus membangun (toilet, red) kan mahal. Pemerintah nggak sanggup, dana kan sudah digunakan untuk penanganan covid lainnya,” ujar Riswanto yang juga menjabat sebagai Kasi Pemerintahan kalurahan tersebut.

Upaya mencari bangunan shelter sudah digaungkan sejak awal pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Pihaknya sudah melayangkan surat peminjaman gedung untuk dijadikan shelter isolasi pasien positif. Mulai dari gedung SD Plaosan II, gedung Puskesmas Pembantu, kos-kosan, rumah warga dan lainnya.”Kalau yang gedung sekolah sih memang masih digunakan untuk kegiatan belajar mengajar (KBM) daring. Tetapi, kayak kos-kosan maupun rumah warga, banyak penolakan dari lingkungan sekitarnya,” kata dia.

Warga mau menerima, asalkan yang dipindahkan, mereka yang negatif Covid-19. Misalnya dalam satu rumah ada satu orang negatif, maka harus dipisahkan. Dipindahkan di selter isolasi tadi. Sementara warga positif, tetap menjalani isolasi di rumah masing-masing.

Kalaupun tetap membuat selter. Pemerintah kalurahan belum siap. Karena tidak didukung dengan tenaga kesehatan (nakes). “Karena saat ini kan kolep. SDM nakes di Puskesmas (Mlati II, red) terbatas, sedangkan pasien membeludak 1,5 bulan terakhir ini,” bebernya.

Terpisah, Dukuh Sanggrahan, Tlogoadi, Mlati, Yulianto menyebut, ada 17 KK atau 24 jiwa yang saat ini menjalani isoman di rumah. Dan hanya sebagian kecil warga yang mau dipindahkan ke shelter padukuhan. Selter padukuhan yang dimaksud adalah memanfaatkan rumah warga yang tidak ditempati. Ini pun tampungannya terbatas.

Warga isoman, oleh masyarakat lingkup RT diberikan bantuan. Berupa makanan, sehari tiga kali. Jatahnya digilir. Tetapi pihaknya juga menyediakan bantuan berupa bahan makanan mentah untuk diolah.

Dikatakan, selama dua bulan terakhir, kasuistik hingga tingkat fatalitas meningkat. Sementara warga belum siap oksigen. Oksigen masih menjadi kendala.”Kalau pantauan kesehatan tetap dilakukan oleh puskesmas,” tandasnya. (mel/pra)

Sleman