RADAR JOGJA – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM) membagikan 200 nasi bungkus dan 40 kilogram beras. Aksi ini merupakan bentuk kritik terhadap kebijakan pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19. Tepatnya menjamin kesejahteraan warga selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat maupun Level 3 dan 4.

Aksi bagi nasi bungkus dan beras sendiri juga merespon keluhan masyarakat. Pasca terbitnya kebijakan PPKM Darurat, roda perekonomian warga tersendat. Imbas dari pembatasan aktivitas ekonomi non esssensial di seluruh sektor.

“Warga Jogja selama PPKM tidak bisa mencari makan disatu sisi kewajiban negara terkait pemenuhan hak hidup bagi masyarakat tidak berjalan. Masyarakat diminta diam di rumah tapi kebutuhan keseharian tidak dipenuhi,” jelas Ketua BEM UGM Muhammad Farhan ditemui di barat bundaran Fakultas Teknik UGM, Kamis (22/7).

Farhan menilai pemerintah seharusnya berkomitmen terhadap Undang-Undang Kekarantiaan Kesehatan. Dengan melaksanakan kebijakan secara penuh. Berupa pemenuhan kebutuhan logistik bagi warga di wilayah karantina.

Kebijakan PPKM Darurat, lanjutnya, membatasi aktivitas warga secara total. Termasuk menutup sejumlah ruang publik dan sektor ekonomi non essensial. Alhasil terjadi ketimpangan kebutuhan ekonomi pada strata masyarakat tertentu.

“Tapi hal itu tidak pernah dilakukan oleh pemerintah selalu mengganti nomenklatur penamaan kebijakan. Satu sindiran, mahasiswa saja gerak. Namun pemerintah ini seakan-akan hanya memberikan apresiasi atau kemudian memberikan penghargaan tapi tidak ada satu kelanjutan program yang disambut,” katanya.

Setahun pandemi berjalan, Farhan melihat bahwa masyarakat telah paham pentingnya protokol kesehatan. Termasuk membatasi mobilitas dalam keseharian. Hanya saja menjadi timpang karena kebijakan yang dianut tak mengacu pada Undang-Undang Karantina Kesehatan.

“Ada poin dimana karantina wilayah itu dijamin kebutuhannya. Di situ sebenarnya tanggungjawab pemerintah yang timpang. Satu setengah tahun itu waktu yang tidak lama, tentu cadangan uangnya habis,” ujarnya.

Dipilihnya pembagian nasi bungkus dan beras tak hanya sebagai kritik. Para mahasiswa UGM ini juga ingin membantu masyarakat terdampak. Terutama masyarakat dengan ekonomi lemah.

Format nasi bungkus berbagi ini bersifat sukarela. Berupa penyediaan etalase kaca di sejumlah titik di wilayah Jogjakarta. Untuk kemudian diisi oleh warga yang ingin membantu sesamanya.

“Siapapun bisa mengisi etalase ini. Jadi gerakannya memang dari warga untuk warga. Mengambil sesuai kebutuhan,” katanya. (dwi/sky)

Sleman