RADAR JOGJA- Diberlakukannya PPKM darurat, beberapa penjual kambing kurban di sekitar Kota Jogjakarta mengeluhkan tingkat penjualan yang menurun. Hal ini dikeluhkan Moch Badruzzaman penjual kambing kurban di Jalan Affandi, Kabupaten Sleman.

Ia menuturkan sejak dibuka pada hari selasa (13/7) sampai pada tanggal (16/7) baru terjual tiga ekor. “Tahun ini sedikit sepi, mungkin karena pengaruh PPKM darurat. Sehingga mungkin menyebabkan yang sohibul kurban (orang yang melakukan ibadah kurban), malas ke luar rumah. Meski tahun kemarin sudah ada pandemi, tapi kan masih longgar.

Jadi memang penjualan lebih bagus tahun kemarin. Kalau untuk tahun ini kan jelas aturan pemerintah PPKM dari tanggal 3 sampai 20. Ya, bedanya di situ,” ujar Moch Badruzzaman ketika ditemui pada Jumat (16/7) siang.

Moch Badruzzaman menjelaskan tahun lalu berhasil meraup penjualan kotor kurang lebih Rp 500 juta dengan menjual sekitar 179 ekor kambing. Sedangkan untuk tahun ini ia pesimis bisa menyamai apalagi melampaui penjualan tahun lalu.

Tahun-tahun sebelumnya, ia berjualan di sekitar Jalan Piyungan Kabupaten Bantul, Jalan Kaliurang  Kabupaten Sleman, dan Jalan Matahari Kabupaten Sleman. Sedangkan baru tahun ini mulai berjualan di Jalan Affandi Kabupaten Sleman.

Tak hanya di Jalan Affandi, ia juga memiliki tempat penjualan kambing kurban lain di sekitar Jalan Kaliurang yang lebih banyak menjual kambing harga premium jika dibandingkan dengan kambing yang dijual di Jalan Affandi yang mayoritas dijual dengan kisaran harga Rp 1,5 sampai 4 juta.

“Jika tidak ada pandemi, ia yakin bahwa lokasi yang digunakan saat ini sangat strategis dan kemungkinan besar bisa lebih ramai dari lokasi-lokasi sebelumnya,”katanya.

Moch Badruzzaman menambahkan dalam mengatasi hambatan PPKM darurat ia menjual secara online dengan menambah jaringan teman dan pembeli melalui facebook, WA grup. Ia juga aktif menawarkan kepada jaringan takmir.

Tak jauh berbeda, penjual kambing kurban di daerah jalan Pondok Raya, Sanggrahan, Depok, Sleman Oky Tingkyr, mengakui jika penjualan sedikit menurun akibat diberlakukannya PPKM darurat. Selama satu pekan berjualan, kurang lebih sudah 40% kambing terpesan.

“Tahun kemarin omset kita itu lebih dari pada tahun ini. Kita melihat juga biasanya dari teman-teman kita yang biasanya pesan pesan berapa ekor, 5 ekor, cuma pesan dua ekor.

Ataupun yayasan atau lembaga lain biasanya pesan pada kita saat ini baru pada libur. Kalau tahun kemarin ia bisa menjual 90 ekor,”ujarnya.

Selain PPKM darurat, menurutnya perputaran ekonomi masyarakat juga berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Daya beli masyarakat yang menurun karena semua menjadi serba terbatas juga berpengaruh pada penurunan tingkat penjualan kambing kurban.

Namun meski begitu, Oky Tingkyr tetap memberikan apresiasi kepada masyarakat. Karena dengan keadaan pandemi dan PPKM darurat seperti ini masyarakat masih memiliki antausias yang cukup tinggi untuk ikut berkurban di Idul Adha.

Ia juga menerima dan mendukung keputusan pemerintah atas diberlakukannya PPKM darurat. Menurutnya, Enggak apa-apa, ini memang kebijakan pemerintah untuk menekan angka kasus covid.

“Kita support bersama, kita tidak mau menyalahkan siapa-siapa. Karena ini untuk kepentingan bersama. Untuk kemaslahatan bersama,”ucapnya.

Sedikit berbeda, penjual hewan kurban di sekitar Jalan Kaliurang KM 8 Muhammad Galang Novantoro menuturkan bahwa efek dari PPKM belum begitu berpengaruh terhadap penjualan.

“Kalau sampai hari ini, setelah berjualan 13 hari sudah terjual 58 ekor domba dan ada pesanan domba dari yayasan 50 ekor, jadi total 108 ekor untuk saat ini. Jujur kalau dibandingkan dengan tahun kemarin tidak berbeda, dari H-4  sudah terjual 50, ini alhamdulillah 60 malahan.

Jadi kalau yang terjual, jumlahnya sudah sama dengan tahun lalu. Tapi apakah jumlah akhirnya besok stok habis semua, atau ada sisa, kami yang kurang tahu. Jadi efeknya belum terasa untuk saat ini, efek dari PPKM,” ujar Galang ketika ditemui di lapaknya.

Project tahunan pasar kurban dibawah nama Golden kurban ini tahun lalu berhasil menjual kambing sejumlah 146 ekor kambing dan domba, sedangkan untuk tahun ini mereka berharap bisa menjual sampai 160 ekor. Namun karena stok masih banyak, harus menjual 100 ekor lagi sampai semua terjual.

Hambatan yang ditemui akibat dari diberlakukannya PPKM darurat ini secara tidak langsung dirasakan oleh Muhammad Galang Novantoro lewat konsumennya.

Hambatan muncul ketika konsumen yang biasa berkurban di suatu masjid, tahun ini masjid yang dituju tidak mengadakan penyembelihan. Sehingga Gilang khawatir apakah konsumen yang biasa membeli, akan tetap berkurban atau tidak.

Selebihnya, hambatan-hambatan lain masih bisa diatasi. Lokasi yang strategis serta kepercayaan dari konsumen tahun lalu di sekitar lokasi yang menurutnya menjadi faktor penjualan tidak begitu berubah dari tahun lalu. (om1/sky)

Sleman