RADAR JOGJA – Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta memberikan dukungan penuh terhadap Satgas Penanganan Covid-19 Pemprov DIJ. Berupa alih fungsi sejumlah fasilitas sebagai shelter bagi pasien Covid-19. Khususnya yang mengalami gejala ringan.

Kali ini dengan pemanfaatan Hotel University Club (UC) UGM dan Wisma Kagama. Kedua bangunan ini resmi menjadi shelter pasien Covid-19 per 14 Juli 2021. Tak sendiri, pengelolaan shelter juga turut menggandeng Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM.

“Melihat kondisi rumah sakit yang sudah penuh dan banyak orang tidak mendapat layanan medis yang diperlukan, kami terpanggil memikirkan bagaimana agar hal seperti itu tidak terjadi. Salah satu yang paling mungkin dilakukan adalah mengurangi beban rumah sakit dalam menampung pasien,” jelas Rektor UGM Panut Mulyono ditemui usai meninjau shelter Hotel UC UGM, Rabu (14/7).

Panut Mulyono menjelaskan, kapasitas total, kedua gedung memiliki 202 tempat tidur. Detail jumlah kamar adalah 71 kamar untuk Hotel UC UGM. Sementara untuk Wisma Kagama memiliki kapasitas 30 kamar.

Untuk setiap kamar memiliki 2 tempat tidur. Hanya saja Panut memastikan tidak semua tempat tidur bisa digunakan. Sementara ini satu kamar hanya bisa diisi maksimal 1 pasien.

“Kecuali besok terjadi lonjakan kasus, mungkin bisa ditingkatkan kapasitasnya. Tapi sementara ini satu kamar hanya diisi 1 pasien,” katanya.

Pendampingan RSA UGM bersifat total. Berupa pemantauan kesehatan untuk setiap pasien Covid-19. Setiap bangunan juga memiliki ruang observasi dan ruang ganti alat pelindung diri bagi tenaga medis.

Skema penggunaan shelter adalah peralihan pasien Covid-19 dari RSA UGM. Khususnya yang menunjukan perbaikan kondisi kesehatan atau bergejala ringan.

“Jadi kalau kondisi kesehatannya membaik bisa dialihkan kesini. Lalu yang di RSA fokus pasien dengan gejala sedang hingga berat,” ujar Rektor UGM Panut Mulyono.

Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan RSA UGM, Ade Febrina Lestari memaparkan pasien umum juga bisa datang ke shelter. Hanya saja telah melalui serangkaian pemeriksaan medis terlebih dahulu di rumah sakit. Dapat pula konsultasi melalui telemedicine.

Dia berharap keberadaan shelter ini dapat mendukung ketersediaan tempat tidur isolasi. Terlebih dengan adanya pembagian skala prioritas pasien. Berupa penempatan pasien Covid-19 bergejala ringan di shelter.

“Tidak bisa dipungkiri rumah sakit saat ini memiliki keterbatasan. Lonjakan kasus tinggi tapi kamar di rumah sakit berkurang. Skala prioritas membuat pasien dengan gejala berat bisa dirawat di rumah sakit sementara yang ringan bisa di shelter,” katanya.

Terkait pembiayaan, Ade memastikan tak ada pungutan biaya. Ini karena skema pembayaran ditanggung oleh pemerintah. Berupa klaim ke Dinas Kesehatan Sleman atas biaya perawatan pasien Covid-19.

“Walau shelter tapi pelayanan medisnya tetap sama dengan rumah sakit. Kami memantau langsung,” ujarnya.(dwi/sky)

Sleman