RADAR JOGJA – Angka pelanggaran protokol kesehatan melonjak selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. Akumulasi pelanggaran justru lebih tinggi dibandingkan saat PPKM skala Mikro. Salah satu penyebabnya adalah ketatnya kebijakan dalam PPKM Darurat.

Salah satu ketatnya aturan adalah jam operasional pelaku usaha. Selama PPKM Darurat pelaku usaha essensial maksimal buka hingga 20.00 WIB. Sementara non esssensial wajib tutup selama PPKM Darurat berlangsung.

“Selain jam buka, masih ada yang melayani makan ditempat untuk warung makan. Padahal dalam aturan sudah jelas. Boleh buka tapi take away,” jelas Kepala Satpol PP DIJ Noviar Rahmad dalam jumpa pers daring, Rabu (7/7).

Meski belum ada data kualitatif, namun pelanggaran telah mencapai 2 kali lipat dari PPKM skala Mikro. Upaya tegas langsung diterapkan atas pelanggaran. Berupa penutupan tempat usaha. Berdasarkan data sementara, Kabupaten Sleman memegang rekor tertinggi pelanggaran. Penyebabnya wilayah ini lebih luas dibandingkan Kabupaten dan Kota lainnya. Selain itu tempat usaha juga tersebar merata di seluruh Kecamatan.

“Kabupaten Sleman ini wilayahnya paling luas. Sebagai contoh, untuk sekali jalan operasi, kami bisa menemukan sekitar 50 pelanggaran,” katanya.

Di satu sisi tingkat partisipasi dan kepedulian masyarakat sangatlah tinggi. Warga Sleman, lanjutnya, aktif dalam melaporkan setiap pelanggaran. Alhasil Satgas Penanganan Covid-19 wilayah bisa bergerak dengan cepat. “Ini yang patut diapresiasi, warganya sangat peduli. Ada pelanggaran langsung lapor. Baik langsung ke kami atau melalui jajaran Kabupaten Sleman,” ujarnya.

Setelah Sleman, Kota Jogja juga menduduki peringkat pelanggaran. Didominasi oleh pedagang non esssensial yang memilih untuk tetap buka. Mulai dari kawasan Malioboro, jalan Sultan Agung hingga kawasan Wirobrajan. Tempat usaha yang melanggar langsung ditutup. Adapula penyegelan untuk level pelanggaran tinggi. Mulai dari tempat hiburan, spa, salon, hingga gamenet.

“Tempat-tempat yang melanggar ini kami datangi dan kami tutup paksa. Lalu lain hari didatangi lagi ternyata masih buka. Akhirnya kami tutup segel tidak bisa buka sampai tanggal 20 Juli,” tegasnya. (dwi/ila)

Sleman