RADAR JOGJA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman melakukan evaluasi pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro yang dinilai kurang optimal dalam penanganan pandemi Covid-19. Pemkab akan kembali memperketat kegiatan sosial masyarakat di tengah jumlah kasus yang tinggi. Nantinya, semua kegiatan sosial masyarakat harus melalui izin ketat satuan gugus tugas (satgas) setempat.

”Evaluasinya, kalau ada kerumunan nanti diketatkan izin. Kegiatan sosial masyarakat boleh dilaksanakan maksimal 25 persen,” ungkap Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo, usai rapat koordinasi pimpinan daerah (Forkompimda) Kabupaten Sleman di Kompleks Parasamya, Pemkab Sleman, Rabu (23/6).

Seperti, kegiatan hajatan, takziah, pengajian, lomba-lomba, yang sebalumnya ada pelonggaran kembali diperketat sebagaimana awal pandemi Covid-19 pada 2020 lalu. Pihaknya meminta agar panewu berkolaborasi dengan lurah. Melakukan sosialisasi dan pengawasan ketat ini. Dia berpesan, agar PPKM mikro dengan pengetatan ini dapat dijalankan masyarakat dengan sungguh-sungguh.

Lebih lanjut dikatakan, pengetatan izin yang dimaksudkan, masyarakat yang hendak menggelar kegiatan harus mendapatkan ijin, dari satgas tingkat padukuhan, kalurahan hingga kapanewon. Kemudian kegiatan yang digelar harus melaksanakan protokol kesehatan (prokes) ketat.

Menurutnya, pengetatan izin ini mutlak dilakukan. Pasalnya, mayoritas kejadian klaster Covid-19, dipicu oleh mobilitas masyarakat dari luar daerah. ”Seperti takziah dari Kudus, lalu hajatan yang tamunya dari luar,” klaimnya, mencontohkan beberapa temuan kasus hingga timbul klaster di Kapanewon Ngemplak.

”Nah, tadi keluhan dari panewu, banyaknya aktivitas kegiatan sosial masyarakat tetapi tidak berizin. Tahu-tahu pergi, pulang-pulang kena,” imbuhnya.
Tingginya angka kasus covid-19 di Sleman saat ini, Kustini menyebut, hanya enam kalurahan berada di zona hijau. Dari total 86 kalurahan di Kabupaten berjuluk sembada ini. lainnya berada di zona kuning, oranye dan merah.

Di Kalurahan Sumberrejo Tempel dalam PPKM Mikro yang diketatkan ini, mulai berjalan sebagaimana imbauan Bupati Sleman. Hanya, tidak semua kegiatan Sosial dapat berjalan maksimal.

Lurah Sumberrejo Tempel Andjar Purwanto mengatakan, terkait kegiatan hajatan pernikahan sudah didorong untuk membatasi kunjungan, bahkan hanya dilaksanakan sederhana diikuti keluarga terdekat. Atau justru di dorong menikah di Kantor Urusan Agama (KUA). ”Yang masih sulit kami kendalikan itu kan kegiatan tahlilan. Karena sudah menjadi aktivitas rutin warga,” ujarnya. (mel/bah)

Sleman