RADAR JOGJA – Selain virus korona, cuaca ekstrem juga patut diwaspadai. Terutama bagi warga Kabupaten Sleman yang tinggal di wilayah perbukitan. Sebab, cuaca ekstrem ditandai dengan hujan deras dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan bencana tanah longsor.

Pemkab Sleman melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman mengimbau, unit operasional (Ops) dan unit pelaksana (Lak) di kalurahan dan kapanewon untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiagaan. Apabila terjadi angin kencang, pohon tumbang ataupun tanah longsor, masing-masing unit dapat mengkondisikan lebih awal.

”Apabila kondisinya cukup besar dan tidak bisa terkendali oleh Unit Ops dan Unit Lak, maka akan di-support oleh TRC BPBD Sleman,” ungkap Kepala Seksi Mitigasi Bencana Kabupaten Sleman Joko Lelono, dihubungi Radar Jogja, Minggu (20/6). Terlebih setiap kalurahan telah dibentuk desa tangguh bencana (Destana). Sehingga reaksi cepat tanggap dapat bergerak lebih awal. Untuk sementara pusat pengendalian operasi (Posdalop) BPBD terus memantau perkembangan cuaca ini.

Adanya cuaca ekstrem ini, yang patut dikhawatirkan, kata Joko, terkait material Merapi. Apalagi, luncuran guguran larva pijar terakhir, dari sektor tenggara sepanjang dua kilometer. Dengan luncuran itu dapat dipastikan material di atas (puncak Merapi) sudah menumpuk cukup banyak. Sehingga rawan longsor.

Jika kubah larvanya sudah mencapai satu juta meter kubik, kemungkinan kalau hujan deras akan mengisi tambang-tambang yang ada di Kali Gendol dan Kali Boyong. Sehingga yang perlu diwaspadai, bagi penambang pasir. Dia mengimbau, meskipun ada kamera pemantau (CCTV) puncak Merapi di Turgo, hendaknya para penambang juga menyiapkan tim pemantau dari atas. ”Jangan sampai truk lagi dimuat tahu-tahu banjir,” ucapnya.

Kemudian fokus lain juga di Bukit Prambanan. Memiliki struktur tanah dengan sedikit batuan kapur yang rentan pelapukan, menyebabkan wilayah ini mudah longsor. Terutama di Kalurahan Gayamharjo. Early Warning System (EWS) tanah longsor yang dapat memberikan informasi tingkat curah hujan, kelembaban, arah angin dan pergeseran tanah sudah terpasang di tiga titik, di kalurahan tersebut. Tepatnya di lokasi yang mengancam rumah penduduk. Lokasinya, di Gunung Cilik Sambirejo, Puntuk Gayam dan Watu Kangsi. Sementara di Wukirharjo, mengancam rumah warga di Sumberarjo.

Selain itu juga ada EWS di 11 titik. Beberapa di antaranya di pasang di Lemah Abang, Bokoharjo dan Wukirsari Cangkringan. Lainnya, ada EWS sederhana asalkan ada gerakan tertarik, EWS akan berbunyi. ”Sementara pemantauan masih aman terkendali. Di Kali Nongko, Gayamharjo ada potensi longsor itu yang dicermati,” katanya. Kendati begitu tidak berdampak signifikan. Lantaran jauh dari rumah warga.

Kepala pelaksanan BPBD Joko Supriyanto mengimbau masyarakat untuk terus waspada terhadap cuaca ekstrim. Jika diketahui tanda-tanada longsor segera dilaporkan. (mel/pra)

Sleman