RADAR JOGJA – Rusunawa UII  Jogjakarta resmi menjadi shelter karantina Covid-19 di Kabupaten Sleman selain Rusunawa Gemawang dan Asrama Haji. Shelter UII resmi beroperasi mulai Senin (14/6).

Kepala Dinas Kesehatan Sleman, Joko Hastaryo tak menampik kapasitas shelter Covid-19 memasuki ambang batas. Untuk rusunawa Gemawang telah overload 75 pasien dengan daya tampung 72 pasien. Sementara untuk kapasitas Asrama Haji Sleman telah terisi 60 persen.

Kondisi ini bisa bertambah setiap harinya. Terlebih jika lonjakan kasus di Sleman menyentuh angka 100 kasus perhari. Alhasil kapasitas di kedua shelter mendekati batas maksimal.

“Rusunawa Gemawang saat ini sudah penuh. Bahkan dari kapasitas 72 malah terisi 75 pasien. Sementara untuk Asrama Haji sudah terisi sektar 60 persen. Lonjakan kasus seminggu ini menyentuh angka 700 kasus lebih,” jelasnya ditemui di Shelter Covid-19 UII.

Upaya aktivitasi shelter milik swasta maupun pemerintah terus berlangsung. Salah satunya pemanfaatan rusunawa milik Universitas Islam Indonesia (UII). Bangunan yang awalnya menjadi hunian mahasiswa dialihfungsikan menjadi shelter Covid-19.

TERUS: Upaya aktivitasi shelter milik swasta maupun pemerintah terus berlangsung. Salah satunya pemanfaatan rusunawa milik Universitas Islam Indonesia (UII). Bangunan yang awalnya menjadi hunian mahasiswa dialihfungsikan menjadi shelter Covid-19. ( DWI AGUS/RADAR JOGJA)

Gedung ini mampu menampung 72 pasien Covid-19. Nantinya setiap kamar akan dihuni oleh satu pasien. Fokusnya untuk merawat pasien Covid-19 tanpa gejala dan bergejala ringan.

“Kemarin kami punya dua shelter (Asrama Haji dan Rusunawa Gemawang) karena kami perkirakan kasus akan melonjak, maka disiapkan tambahan shelter. Salah satunya memanfaatkan bangunan milik UII,” katanya.

Pihaknya akan sepenuhnya membantu operasional shelter UII. Berupa pendanaan yang dibantu APBD. Selain itu juga menempatkan enam tenaga kesehatan.

“Enam tenaga kesehatan ini dari Shelter Rusunawa Gemawang dan Asrama Haji. Jadi dengan tenaga kesehatan yang berpengalaman pelayanan akan optimal,” ujarnya.

Shelter UII juga bertujuan menampung isolasi sisi utara. Joko tak menampik ada beberapa warga yang menolak isolasi di dua shelter utama. Pertimbangannya merasa jauh dari kediaman.

“Shelter UII ini juga memudahkan warga di Sleman utara untuk isolasi tanpa merasa kejauhan. Ada kalanya masyarakat tidak mau di shleter karena jauh,” katanya.

Rektor UII, Fathul Wahid menjelaskan bahwa shelter ini merupakan hasil kerjasama lintas instansi. Terutama oleh UII, Pemkab Sleman, dan gerakan kemanusiaan Sambatan Jogja (Sonjo). Shelter ini nantinya akan menampung pasien Covid-19 tanpa gejala dan gejala ringan.

Shelter yang berada di sisi selatan Kampus UII Jalan Kaliurang KM.14 ini mampu menampung 72 orang. Mekanisme untuk bisa tinggal di shelter ini yaitu melalui surat pengantar dari puskesmas. Setelahnya menjalani screening dan kemudian bisa mendiami salah satu kamar isolasi.

“Gedung ini awalnya untuk pesantren mahasiswa semester tahun baru dan genap. Tapi sudah setahun ini tidak digunakan,” ujarnya.

Terkait kebutuhan logistik, Fathul memastikan aman. Ini karena ada suplai dari Pemkab Sleman maupun Sonjo. Sementara secara internal, UII turut menyiagakan dokter jaga di shelter ini.

“Sifatnya gotong royong dalam memutus rantai penyebaran corona. Kami juga menerima sumbangan dari donatur. Selain dokter jaga adapula cleaning service, satpam, hingga tenaga logistik. Semua telah mendapatkan pelatihan,” ujarnya.(dwi/sky)

Sleman