RADAR JOGJA – Kepala Divisi Pemasyarakatan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) DIJ,  Gusti Ayu Putu Suwardani mengevaluasi pelaksanaan prokes Covid-19 di Lapas Kelas IIA Narkotika Jogjakarta. Salah satunya dengan  penggunaan kotak steril di pintu masuk. Berlaku wajib bagi seluruh karyawan yang akan masuk ke lapas.

Dia memaparkan sejumlah temuan pasca pantauan kasus. Untuk kotak steril sudah tidak aktif dan dimatikan. Lalu pegawai lapas tidak menjalankan prokes dengan ketat dan disiplin.

“Jadi kemarin saya langsung keluarkan surat perintah untuk melaksanakan prokes ketat dan mengaktifkan kembali box steril. Terus kemudian cuci tangannya banyak yang diabaikan,” jelasnya dihubungi melalui sambungan telepon, Senin(14/6).

Dalam surat tersebut, Ayu meminta seluruh warga Lapas Kelas IIA Narkotika Jogjakarta patuh tanpa terkecuali. Wajib melalui kotak steril, cuci tangan pakai sabun atau handsanitizer dan mengukur suhu tubuh. Juga wajib menggunakan masker selama beraktivitas di dalam lapas.

Dari hasil pantauan, kasus juga berasal dari penjaga kantin. Sosok ini diketahui beraktivitas diluar gedung lapas. Sehingga memiliki potensi penyebaran Covid-19 yang lebih luas.

“Jadi mungkin itu yang menjadi sumber penularan, karena barang-barang di kantin itu kan sudah terpapar gitu ya. Makanya langsung kami lockdown,” katanya.

Walau berstatus warga binaan, Ayu tetap mewajibkan penggunaan masker. Setidaknya pasca munculnya kasus, maka prokes berlaku semakin ketat. Masker bisa dilepas apabila warga binaan berada di kamarnya masing-masing.

Kondisi di lapas narkotika sendiri masih kondusif. Walau diakui oleh Ayu, kapasitas tampungan telah menipis. Tercatat saat ini ada sekitar 430 warga binaan. Sementara untuk kapasitas total mencapai 450 warga binaan.

“Nah ini kemarin saya ingatkan kembali pada teman-teman jangan abai, karena satu orang abai saja selesai semua di dalam. Benar terjadi, dalam waktu hitungan satu minggu itu dari 6 orang langsung sekitar 188 kasus,” ujarnya. (dwi/sky)

Sleman