RADAR JOGJA – Kepala Divisi Pemasyarakatan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) DIJ,  Gusti Ayu Putu Suwardani mengakui kecolongan atas munculnya ratusan kasus Covid-19 di Lapas Kelas II A Narkotika Jogjakarta. Terlebih kasus awal adalah seorang sipir lapas. Hingga akhirnya merembet hingga ke warga binaan di dalam lapas.

Ayu menuturkan sebelum terkonfirmasi positif Covid-19, sipir sempat pulang kampung. Saat menjalani tugasnya di Lapas Narkotika muncul gejala Covid-19. Seperti hilangnya indera penciuman dan perasa atau anosmia dan demam.

“Jadi dari seminggu yang lalu mungkin ini yang bawa ini petugas yang pulang kampung kemudian mungkin mereka tidak melaksanakan prokes. Setelah di antigen dia positif lalu lanjut PCR ternyata sama, tapi sempat masuk kantor gitu akhirnya ditracking,” jelasnya dihubungi melalui sambungan telepon, Senin (14/6).

Ayu menambahkan hasil pendeteksian awal, kasus sudah menular ke enam orang. Detailnya, tiga orang adalah pegawai lapas dan tiga lainnya adalah warga binaan. Seluruhnya memiliki gejala yang sama yaitu demam.

Pasca temuan kasus awal, pihak Lapas Narkotika memutuskan melakukan tes swab massal. Pihaknya bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Sleman dalam melakukan tracing. Berupa 400 tes swab PCR secara langsung.

Selain dengan Dinkes Sleman, Lapas Narkotika Jogjakarta juga berkoordinasi dengan Pemprov DIJ. Guna meminta bantuan tambahan swab PCR kit. Untuk kemudian mengetes kesehatan warga binaan di 2 blok tersisa.

“Benar ternyata begitu kami langsungkan tes PCR banyak yang positif. Mayoritas sih tapi tanpa gejala. Blok bougenvil, edelwis, dahlia atau blok B, E dan D itu yang mayoritas ternyata positif,” katanya.

Ayu menjelaskan, sementara ini ada 13 pegawai lapas yang positif Covid-19. Sementara untuk warga binaan sebanyak 188 orang. Data ini berbeda dengan milik Dinas Kesehatan Sleman. Akumulasi Covid-19 di Lapas Narkotika hingga saat ini mencapai 275 kasus.

Ayu memastikan tracing kasus masih berlanjut. Ini karena belum semua warga binaan dan pegawai lapas narkotika menjalani tes antigen maupun swab PCR. Kebijakan ini guna antisipasi penyebaran Covid-19 semakin meluas.

“Jadi mungkin itu bertahap mungkin hari ini akan keluar lagi hasil yang berikutnya. Jadi tidak sekaligus keluarnya bertahap. Kalau total warga binaan terakhir ada 430 di lima blok,” ujarnya.

Untuk saat ini, Ayu melarang adanya interaksi erat. Termasuk para sipir kepada warga binaan. Pertimbangannya adalah evaluasi kasus awal di Lapas Narkotika Jogjakarta.

Pihaknya memilih untuk memisahkan 52 warga binaan yang belum terkonfirmasi positif. Berupa penempatan di blok terpisah. Mobilitas hanya diperuntukkan bagi tim dokter dan medis dengan APD lengkap.

“Sementara memang kami sendirikan dari blok. Ada 52 warga binaan,itupun belum swab. Sementara kami pisahkan karena tidak mungkin dipindahkan,” katanya. (dwi/sky)

Sleman