RADAR JOGJA Р Warga Dusun Ngrangsan, Selomartani, Kalasan Sleman melakukan pembatasan aktivitas di wilayahnya. Langkah ini diambil setelah muncul 36 kasus terkonfirmasi positif Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di kampung tersebut. Salah satu dari pasien telah meninggal dunia Rabu (2/ 6).

Pada awalnya kasus berkembang di kalangan keluarga. Namun akhirnya menyebar hingga ke lingkungan RW. Penyebaran kasus berawal dari doa tahlilan di rumah pasien Covid-19 yang meninggal dunia.

“Awalnya dari keluarga. Ada satu pasien meninggal dunia, lalu malamnya tahlilan. Pasien ini sudah sakit tapi belum diketahui positif (Covid-19). Hasil swab baru keluar sehari setelahnya,” jelas Lurah Selomartani Nurhidayati ditemui di Kantor Kalurahan Selomartani, Jumat (11/6).

Nurhidayati menuturkan pada awalnya ada 3 anggota keluarga yang masuk rumah sakit. Salah satunya adalah sepasang suami istri lanjut usia (lansia). Hingga akhirnya sang istri meninggal dunia dalam masa perawatan.

Pasca meninggal, keluarga menggelar doa bersama di kediaman. Selang berganti hari diketahui bahwa lansia yang meninggal terkonfirmasi positif Covid-19. Alhasil tracing kontak erat menyasar warga yang mengikuti yasinan.

“Jadi memang belum tahu kalau positif. Langsung tracing massal. Mayoritas warga dalam satu RW. Kalau jumlahnya banyak, tapi tidak sampai angka 100 warga,” katanya.

Dari 3 kasus awal, tracing kontak erat memunculkan 9 kasus terkonfirmasi positif Covid-19. Berlanjut dengan tracing kedua yang mampu melacak 23 terkonfirmasi positif Covid-19. Sehingga total kasus di kampung tersebut mencapai 36 kasus.

Warga, lanjutnya, menjalani isolasi mandiri di rumah. Walau begitu adapula yang memilih isolasi di shelter Gemawang. Pertimbangannya adalah tidak optimalnya kediaman untuk isolasi mandiri.

“Ini tadi dijemput pakai ambulance dan dibawa ke Rusunawa Gemawang. Ada 8 warga yang dibawa ke rusunawa. Lalu 3 di rumah sakit dan sisanya isolasi mandiri di rumah,” ujarnya.

Guna mengoptimalkan isolasi mandiri, warga membuat portal bambu. Tujuannya untuk membatasi mobilisasi warga. Portal juga dipasang di kediaman warga yang menjalani isolasi mandiri.

Nurhidayati memastikan jatah hidup warga terpenuhi. Berupa kiriman makanan dan kebutuhan sehari-hari. Sehingga warga tetap di rumah untuk menjalani isolasi mandiri.

“Kalau lockdown tidak, tapi pembatasan aktivitas ada. Warga ikuti protokol dengan disiplin untuk isolasi. Kami bantu jadup (jatah hidup). Biar segera terselesaikan dan segera sehat,” katanya. (dwi/sky)

Sleman