RADAR JOGJA – Jika di Kalurahan Bokoharjo dan Sambirejo, Prambanan terdapat obyek wisata (obwis) atau situs agama hindu dan budha. Di Padukuhan Jali, Kalurahan Gayamharjo, Prambanan terdapat obwis kristiani. Namanya, Goa Maria, di Sendang Sriningsih. Seperti apa pesonanya?

MEITIKA CANDRA LANTIVA/RADAR JOGJA

Lokasinya terpencil. Berada di antara Bukit Ijo dan Bukit Mintorogo, Prambanan. Jika ditempuh menggunakan kendaraan roda empat sedikit sulit. Karena jika hanya mengandalkan google map, bisa jadi melewati jalan tanjakan yang terjal dan sempit. Sehingga idealnya naik sepeda motor menuju lokasi ini.

Melewati jalan setapak dan melewati halaman rumah warga, obwis ini berada. Dibalik rerimbunan pohon-pohon raksasa. Berusia ratusan tahun. Radar Jogja memilih masuk lewat pintu samping. Parkirnya, di halaman rumah warga.

Saat menaiki beberapa anak tangga, Radar Jogja dibuat takjub dengan keindahannya. Tiga pohon beringin besar berjajar. Akarnya mengantung, rantingnya unik dan tampak artistik. “Pohon ini usianya, sudah ratusan tahun,” ungkap salah seorang pengunjung wisata religi asal Kartosura, Jawa Tengah, Deni Handoyo, 66, di lokasi Minggu (6/6).

Pohon tersebut dibiarkan tumbuh besar. Untuk memberikan kesejukan lokasi tersebut. Sekaligus untuk melindungi mata air Sendang Sriningsih, dekat dengan lokasi pohon itu. Agar airnya selalu mengalir. Memberikan manfaat baik bagi orang sekitarnya.

Tepat di sisi timur sendang, terdapat Gua Maria. Di sana berdiri patung Maria yang terpahat megah setinggi empat meter. Lalu sedikit naik, ke selatan terdapat patung Yesus yang disalib. Lokasinya disebut bukit Golgota. Bagi umat kristiani dapat menyalakan lilin di bawah salib dan memanjatkan doa.

Di lokasi itu juga terdapat tiga bangunan joglo, yang biasa digunakan untuk perkumpulan peribadatan. Ataupun tempat istirahat bagi pengunjung obwis religi ini. Di ke arah tenggara terdapat pintu masuk dengan tanjakan tangga. Kurang lebih 900 meter panjangnya. Di sini juga terdapat relief yang menceritakan perjalanan Yesus memanggul kayu salib.

“Di sinilah keheningan doa itu tercipta. Damai rasanya,” ungkap Deni. Meski bukan warga lokal, dia mengaku hampir saban Minggu dia berziarah di lokasi ini. Usai berdoa, dia selalu menyempatkan diri membasuh wajahnya menggunakan air sendang. Juga mengambil air sendang untuk di minum. Katanya, sebagai perantara rahmat Tuhan pada umatnya. Sesuai dengan arti dari Sendang Sriningsih.

Saat Radar Jogja di sana, hal serupa juga dilakukan umat lainnya. Bahkan tak sedikit yang menyebutkan, air sendang tersebut memiliki khasiat besar. Diyakini dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Setelah berdoa, tak jarang yang membawa botol, memasukkan air tersebut ke dalam botol. Termasuk Deni tadi.

Konon lokasi Sendang Sriningsih dulu berada di tengah hutan. Kemudian seketika 1934, seorang Jesuit bernama D Hardjosuwondo SJ ditugaskan datang di Padukuhan Jali, yang kala itu masih bernama Sendang Duren. Karena dirasa memiliki aura spiritual yang kental. Selanjutnya, dia membangun lokasi tersebut menjadi tempat ziarah. Dan mengubah nama Sendang Duren menjadi Sendang Sriningsih. Sesuai arti tadi. “Konon, ada yang melihat penampakan bunda Maria di lokasi ini (dekat sendang, red),” kata pengunjung lainnya, Sartono dari Klaten.

Lepas dari wisata religi, Dukuh Jali Rumiyati mengatakan, Sendang Sriningsih merupakan satu-satunya sumber mata air murni di wilayahnya. Sendang ini memiliki manfaat besar bagi warga di sekitarnya. Sebab, airnya tak pernah kering meski kemarau panjang. Bahkan, lima tahun belakangan ini keberadaanya dibutuhkan warga setempat. Jika kemarau panjang, mereka (warga, red) kekurangan air bersih, warga mencari air di lokasi tersebut. Ada yang masih memikul air ataupun menggunakan jerigen. “Menjadi berkah tersendiri bagi warga sekitar,” ungkapnya.

Sendang itu, kini sudah dicor semen, sehingga tertutup rapi agar tetap bersih. Di dekat sendang terdapat sumur timba. Airnya citek dan jernih. “Bisanya ngambil lewat sumur itu,” kata Rumiyati.

Dia berharap, masyarakat sekitar tetap menjaga kelestarian alamnya. Sehingga mata air satu-satunya itu tetap dapat terpelihara. (pra)

Sleman