RADAR JOGJA – Sebanyak 320 jamaah Kota Jogja terdampak pembatalan keberangkatan haji tahun 2021 dari pemerintah pusat. Meskipun selalu ada kebijakan pembatalan haji akibat dari pagebluk Covid-19, minat masyarakat mendaftarkan haji masih terbilang tinggi.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Jogja, Nur Abadi mengatakan jamaah haji yang terdampak, ialah mereka yang sudah melunasi pembiayaan haji pada tahun 2020 dan siap untuk diberangkatkan pada tahun ini. Seharusnya, mereka diberangkatkan pada tahun lalu. Namun, terdampak kebijakan pembatalan yang sama. Maka, ke 320 orang itu digeser pemberangkatan di tahun 2021.
“Mestinya sudah berangkat tahun lalu karena sudah melunasi, kemudian digeser tahun ini tapi dibatalkan juga (keberangkatannya),” katanya Jumat (4/6).

Sampai dengan saat ini calon jamaah haji Kota Jogja yang masih menunggu antrean atau yang sudah mendaftar tetapi belum berangkat sebanyak 11.700 orang. Meski begitu, selama tahun 2020 sampai dengan saat ini pendaftaran haji masih terbilang tinggi.

Disebutkan dalam sehari ada 3-5 orang yang mendaftarkan haji ke Kantor Kemenag Kota Jogja. Rata-rata berusia masih muda disusul lanjut usia. Diprediksi daftar sekarang akan berangkat pada tahun 2049 mendatang.
Menurutnya, mereka punya prinsip pokoknya daftar dulu. “Soal nanti kapan berangkat kalau masih diberikan umur dan kesempatan nanti pasti akan tetap sehat dan berangkat gitu kata mereka,” katanya.

Dijelaskan, semestinya jamaah yang diberangkatkan tahun ini berkurang tiga orang karena mereka mengundurkan diri. Namun, ke 317 jamaah ini sudah menarik seluruh dananya yang seharusnya berangkat tahun ini. “Nanti akan ada pemberitahuan resmi ke jamaah bahwa tahun ini pemerintah memutuskan tidak memberangkatkan haji. Karena berkaitan dengan kesehatan jamaah haji dimasa pandemi Covid-19,” ujarnya.

Menurutnya, pertimbangan pembatalan haji tahun 2021 ini salah satunya karena masih alasan pandemi. Ke sebelas negara yang biasa mengikuti haji, pun kasus Covid-19 yang ditangani masih cukup tinggi. Termasuk, Arab Saudi yang perkembangan kasus dalam sehari masih mencapai 1.000 lebih. “Jadi alasan itulah pemerintah memutuskan karena masih pandemi daripada nanti merepotkan kesiapan jamaah, eman-eman,” jelasnya.

Dijelaskan, sekalipun diberangkatkan untuk ke Tanah Suci masih banyak pembatasan-pembatasan kegiatan. Dicontohkan, saat kegiatan tawaf atau mengelilingi Ka’bah di Masjidil Haram hanya diperbolehkan masuk sedikitnya 3 kali. Belum lagi ketika datang tiba di Arab Saudi harus melakukan karantina mandiri selama 5 hari. Tidak ada salat Arbain, karena dibatasi hanya 3 hari di Madinah. “Jadi cuma di sana 3 hari nanti trus sebelum pulang juga karantina dulu, tes kesehatan baru dipulangkan ke tanah air masing-maisng. Ini kalau aturan selama ini yang dibuat disana,” terangnya.

Meskipun adanya pembatalan haji, pihaknya tetap berharap kepada calon jamaah haji tahun 2021 khususnya untuk tidak menarik dana yang telah disetorkan. Sebab, akan bisa menghapuskan antrean yang sudah ditetapkan. ”Artinya harus mengulang pendaftaran haji lagi dari awal,” terangnya.

Dikatakan, pada prinsipnya sebagai pemerintah siap memberikan dana calon jamaah haji yang meninginkan kembali. “Kalau nanti misalnya ditarik kan malah repot lagi, daftar ulang lagi dari awal. Kalau nanti tidak ditarik misalnya mau berangkat ada kekurangan kan malah bisa ditanggung pemerintah dengan dana BPKH (Badan Pengelola Keuangan Haji),” tambahnya. (wia/bah)

Sleman