RADAR JOGJA – Kehidupan hanyalah titipan sang Ilahi. Tidak ada yang tahu kapan kembali. Begitu Zakiyah dan keluarga ikhlas melepas kepergian anak keduanya, Alan Fajar Mutaqien, 32, dan cucunya, Tsaqif Zahid Zindagi (3,5), korban kecelakaan laut di Pantai Menganti, Kebumen, Jawa Tengah.

MEITIKA CANDRA LANTIVA, Sleman, Radar Jogja

Suasana duka menyelimuti keluarga Zakiyah, 59. Di rumah sudut jalan, menghadap ke timur itu, tepatnya di Padukuhan Mejing Wetan RT 10 RW 05, Ambarketawang, Gamping, Sleman. Warga silih berganti mendatangi rumah Zakiyah. Mengucapkan belasungkawa, menguatkan dengan memberi semangat moril bagi keluarganya.

Saat Radar Jogja ke rumahnya, Zakiyah secara terbuka menceritakan laka laut kala itu. “Semua sudah takdir Yang Kuasa, keluarga sudah ikhlas,” ucap Zakiyah kepada Radar Jogja kemarin siang (1/6). Meski ada raut kesedihan, Zakiyah dan keluarga tampak kuat dengan senyum ramah.

Diceritakan, saat itu dia dan keluarganya (suami dan anak cucunya) hendak menjenguk saudara yang sakit di Majenang, Kabupaten Cilacap. Karena masih pagi, anak-anaknya mengajak jalan-jalan ke pantai di wilayah Kebumen. Dimulai Pantai Suwuk, kemudian berlanjut ke Pantai Menganti.

Di Pantai Menganti, mereka sempat bermain air. Lalu sepakat menaiki mobil pikap melintasi Jembatan Merah objek wisata itu. Tak selang lama mereka kembali menuju basecamp awal mereka berkumpul. Saat kembali, dua putra dan satu cucunya memilih belok ke kiri menuju tebing karang, dimana di lokasi itu terdapat tulisan zona aman. Jauh lebih tinggi dari permukaan air laut.

Saat itu, mereka melihat pemandangan pantai dari atas tebing karang itu. Alan Fajar Mutaqien yang merupakan adik Juan Awaludi Ikhsan tengah menggendong Tsaqif Zahid Zindagi, anak pertama Juan. Mereka hendak berfoto membelakangi pantai. Nahas, seketika ombak besar datang menghempas ketiganya.

Saat ombak pertama itu tangan Juan sempat meraih Alan. Satu tangannya pegangan karang dengan kuat. Namun begitu ombak kedua datang lagi, pegangannya terlepas. Dan dilanjutkan ombak ketiga, mereka menggulung Alan dan Tsaqif. Keduanya hanyut, hanya Alan yang tampak mengapung di ombak sekitar tebing itu.

“Saat itu Juan shock masih mencari-cari keduanya. Lalu kami bergegas memanggil SAR dibantu pengunjung lainnya,” ungkap perempuan yang menginjak lansia itu. Kejadian pukul 09.00 itu seketika membuat pengunjung lainnya panik, turut mencari keberadaan anak dan putranya. Karena tampak mengapung, tidak butuh waktu lama Tim SAR melakukan evakuasi. Sekitar 30 menit korban berhasil dievaluasi dalam keadaan meninggal dunia.

“Saat diperiksa tim medis, korban belum sempat meminum air laut. Meninggal karena benturan keras di kepala bagian kiri hingga menyebabkan pendarahan,” kata Zakiyah. Saat jenazah berhasil dievakuasi, tangan jenazah dalam posisi layaknya menggendong keponakannya itu.

Kemudian jenazah Alan dipulangkan dari Kebumen pukul 13.00 dan dimakamkan Minggu sore (30/5) di Padukuhan Mrisi, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul. Sementara korban bernama Tsaqif ditemukan Selasa (1/6) sekitar pukul 09.00, tidak jauh dari lokasi. Sekitar pukul 11.00 jenazah dibawa dari Kebumen menuju rumah duka di utara Dongkelan, Krapyak Kulon, Panggungharjo, Bantul.

Alan, bagi Zakiyah, merupakan anak yang berbakti kepada orang tua dan penyayang keluarga. Dia sosok yang bertanggung jawab dan santun. Terhadap Tsaqif, seperti anak sendiri. Mereka sangat dekat. Alan sendiri berprofesi sebagai guru di SD Kuttab Al Fatih Jogjakarta. Sementara Tsaqif merupakan balita cerdas dan aktif. Bahkan di usianya yang masih dini, dia memiliki rasa keingintahuan yang lebih. Tertarik dengan perkereta-apian dan memiliki daya ingat tinggi.

“Tsaqif sering menginap di sini (rumah Zakiyah, Red), diajari bahasa arab oleh pamannya. Dia sedikit-dikit mengerti bahasa Arab. Setiap hari diputarkan materi kaset tentang pengetahuan yang dibuatkan khusus oleh pamannya itu. Kami banyak berdoa saja dan istighfar,” kata Zakiyah. (laz)

Sleman