RADAR JOGJA – Setelah merasakan dampak penyekatan selama arus mudik dan balik lalu, pelaku pariwisata di DIJ baru bisa merayakan lebaran pada liburan ini. Jumlah kunjungan wisatawan mulai mengalami peningkatan.

Ketua BPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIJ Deddy Pranowo Eryono mengatakan, pada libur akhir pekan lalu tingkat hunian hotel mulai naik. Dia menyebut, pada Sabtu dan Minggu (29-30/5) okupansi hotel di DIJ mencapai 30-50 persen. Padahal pada masa lebaran lalu hanya berkisar tujuh persen. “Baru sekarang ini kalangan perhotelan berlebaran,” ungkapnya Senin (31/5).

Deddy menambahkan, kenaikan kunjungan mulai dirasakan pasca-dicabutnya penyekatan oleh pemerintah. Untuk pengunjung, pemilik Hotel Ruba Grha itu menyebut, saat ini tamu hotel didominasi keluarga. Terutama dari wilayah Jakarta dan Jawa Timur. “Juga dari instansi pemerintah, mulai (ada) MICE lagi,” ungkapnya.

Peningkatan kunjungan juga diakui Kepala Dinas Pariwisata DIJ Singgih Raharjo. Bahkan, pada Minggu (30/5) lalu, kunjungan wisata di DIJ memecahkan rekor. “Kunjungan setelah lebaran yang tercatat di Visiting Jogja itu 37.500, tapi yang Minggu (30/5) kemarin mencapai 37.660,” ujar Singgih.

Diakui Singgih, jumlah kunjungan itu bisa jauh lebih besar. Pasalnya, masih banyak wisatawan yang datang ke DIJ tidak memanfaatkan aplikasi Visiting Jogja untuk melakukan reservasi. Mereka langsung datang dan masuk saja ke DIJ. Wisata di daerah pantai masih jadi favorit bagi wisatawan. Kebanyakan wisatawan mengunjungi pantai di wilayah Bantul dan Gunungkidul.

Ramainya situasi Jogjakarta pada akhir pekan ini menimbulkan kekhawatiran. Apalagi hari ini (1/6) juga merupakan hari libur. Dikhawatirkan akan semakin banyak wisatawan yang berkunjung ke DIJ. Tentu penularan Virus Korona akan semakin sulit dikendalikan. Menanggapi hal itu, Singgih mengaku pihaknya sudah memiliki forum destinasi wisata. Dalam forum itu penerapan protokol kesehatan selalu diingatkan untuk terus ditegakkan. “Kami koordinasi terus,” tandas Singgih.

Deddy pun mengaku sudah mengingatkan jangan sampai terjadi klaster baru dengan meningkatnya jumlah wisatawan. Di antaranya dengan memastikan penerapan prokes di hotel. “Termasuk tidak menjual seluruh kamar, misal kapasitas 50 kamar, ya 40 kamar saja yang ditawarkan,” ungkapnya. (kur/pra)

Sleman