RADAR JOGJA – Sejak dibuka pada 2019 lalu, Underpass Kentungan tak lepas dari keluhan. Yang terbaru, pada Sabtu (29/5) lalu, underpass tersebut tergenang air dalam waktu yang cukup lama. Sebagai bentuk protes dan keperihatinan pada hasil akhir juga perawatan pada Underpass Kentungan, aktivis Jogja Corruption Watch (JCW), Baharuddin Kamba menggelar aksi tunggal kemarin siang (30/5).

Genangan air pada Sabtu lalu akibat hujan yang sebelumnya melanda di Sleman. Resapan air pada underpass itu ditengarai tidak berjalan baik. Ini bukan kali pertama Underpass Kentungan menuai perhatian. Beberapa bulan lalu, underpass tersebut sempat ditutup selama beberapa hari lantaran adanya pemeliharaan saluran air.

Hal itu disoroti Kamba, dalam aksi yang digelar di taman di tengah Underpass Kentungan. Dalam kesempatan itu, ia menyoroti polemik rusaknya infrastruktur tersebut Kamba pun melancarkan protesnya dengan aksi nan unik, dengan mandi kembang. Menurutnya, aksi tersebut untuk menyoroti insiden banjir yang melanda jalur bawah tanah saat hujan melanda. “Sebagai bentuk keprihatinan kalau banjir masyarakat kena imbasnya basah, sebagai bentuk agar pengembang atau kontraktor segera memperbaiki ini,” ungkap Kamba.

Kamba pun berharap kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), untuk segera melakukan audit terhadap proyek tersebut. Pasalnya, kerusakannya sudah terjadi berulang-ulang kali. “Aparat penegak hukum kita minta investigasi, dari BPK, maupun KPK. Tidak diminta, atau diminta, bisa melakukan audit proyek yang nilainya Rp 101 miliar,” katanya.

Dia pun mengingatkan, saat pembangunan Underpass Kentungan sudah memakan korban mobil karena pengerukkan yang tidak benar. Kemudian, berlanjut dengan pemasangan ikonik gambar-gambar ditembok yang tidak rampung. “Paling krusial tentu soal aspek keselamatan bagi para pengguna jalan. Ya, dari penutup selokan yang tidak datar. Kemudian, masalah resapan air yang menimbulkan banjir ketika musim hujan,” kata Kamba.

Sementara itu, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 1.4 Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional (Satker PJN) DIJ, Julian Situmorang mengatakan, selama ini dirinya sering mendapat informasi yang datang dari masyarakat soal buruknya kualitas Underpass Kentungan. Terbaru, pihaknya pun telah menyaksikan video terkait genangan air yang berada di terowongan sepanjang 180 meter dari underpass tersebut.

Julian menjelaskan, yang dilakukan pihaknya saat ini adalah menyelesaikan segera terkait banjir yang terjadi pada Sabtu (29/5) lalu. Julian mengklaim, saat ini kerusakan apapun yang terjadi di underpass Kentungan masih menjadi tanggung jawab kontraktor. “Ini masih dalam masa pemeliharaan kontraktor. PT Istaka Karya masih bertanggung jawab,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pihaknya telah meminta kepada kontraktor supaya segera memperbaiki kelistrikan pada pompa di underpass tersebut. Pasalnya, pasca-video banjir itu beredar, tim Satker PJN telah meninjau ke lokasi dan mendapati dua pompa listrik di sana tidak berfungsi. “Kami bukan ahli di bidang listrik. Sudah kami koordinasikan dengan kontraktor. Kami minta identifikasi kelistrikan, karena pompa itu mati, mungkin mati lampu waktu kemarin,” tegasnya.

Julian memastikan, kontraktor PT Istaka Karya masih dalam kontrol dari tim Satker PJN. Artinya apabila terdapat kerusakan sewaktu-waktu, pihak kontraktor masih dapat dihubungi dan dimintai pertanggung jawaban. “Masih dalam kontrol kami. Jadi tidak wanprestasi, mereka tetap melakukan pengerjaan perbaikan. Setelah ini kami juga ada rencana kerja perbaikan,” ujarnya.

Rekan sesama PPK Satker PJN Kementerian PUPR lainnya, Sidik Hidayat menambahkan, sebenarnya pihak Satker PJN sudah berkali-kali mengirimkan surat teguran terkait kerusakan yang sering terjadi. “Sudah berpuluh-puluh surat teguran kami kirimkan. Itu ada sampai beberapa bandel, ya terkait kerusakan dan pengerjaannya,” katanya.

Ia menambahkan, pasca difungsikannya underpass tersebut di awal 2020 lalu, masa pemeliharaan dari kontraktor itu dikatakan Sidik akan berakhir pada Desember tahun ini.Secara umum pihaknya tidak keberatan jika proses audit pembangunan underpass tersebut dilakukan. “Audit bukan kewenangan kami, ya memang kerusakan ini sudah sering. Surat teguran sudah berkali-kali kepada kontraktor,” tandasnya. (kur/pra)

Sleman