RADAR JOGJA – Sebanyak 32 warga Dusun Nglempong dievakuasi oleh tim puskemas Ngemplak I dan BPBD Sleman ke Rusunawa Gemawang.

Tindakan ini sebagai upaya medis penanganan sebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Dusun tersebut. Ini setelah muncul total 52 kasus Covid-19 di wilayah tersebut.

Kepala Puskesmas Ngemplak I Seruni Anggraini Susila menuturkan ada penambahan kasus pasca tracing swab Polymerase Chain Reaction (PCR). Dari total 79 specimen sebanyak 39 terkonfirmasi positif Covid-19. Sementara untuk kasus awal tercatat ada 13 kasus.

“Evakuasi khusus kasus baru saja, ada 32 warga. Ada beberapa tidak bisa dievakuasi karena punya balita dan lansia yang tidak bisa ditinggal. Mengingat kondisi kesehatannya baik tanpa gejala maka boleh isolasi mandiri di rumah,” jelasnya ditemui di Kantor Balai Desa Umbulmartani Kapanewon Ngemplak, Jumat (28/5).

Walau begitu, Seruni memastikan tetap ada pengawasan. Melibatkan Satgas Covid-19 Dusun Nglempong dan tim Puskemas Ngemplak I. Berlangsung harian hingga masa isolasi mandiri berakhir.

Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Sleman. Hasilnya disepakati evakuasi ke rusunawa Gemawang. Evakuasi berlangsung sore hari dengan sejumlah kendaraan bermotor.

“Saat ini tim bersama satgas Kalurahan dan dusun masih mengkondisikan untuk bisa evakuasi nanti sore, dibantu BPBD Sleman. Nanti diatur agar proses evakuasi tidak menimbulkan kepanikan warga,” katanya.

Pasca evakuasi, upaya medis berlanjut dengan dekontaminasi kampung. Melibatkan warga dusun dan Satgas Covid-19. Disisi lain aktivitas kampung masih terbatas. Penerapan lockdown mikro berlangsung hingga 31 Mei.

“Semua kegiatan sosial di Dusun Nglempong selama 14 hari kedepan ditiadakan dulu. Hanya boleh untuk bekerja lalu sekolah untuk yang hasilnya negatif Covid-19,” ujarnya.

Sebaran kasus Covid-19 di dusun Nglempong berawal 17 dan 18 Mei. Kala itu muncul gejala serempak di sejumlah kediaman warga. Berlanjut dengan munculnya kasus awal dari 19 hingga 21 Mei.

Hasil penelusuran, sempat muncul kegiatan silaturahmi. Tepatnya saat hari raya Idul Fitri. Warga kampung sempat saling berkunjung. Sayangnya adat istiadat ini berjalan tanpa penerapan prokes Covid-19.

“Bisa dibilang klaster ujung (silaturahmi Idul Fitri), karena memiliki keterkaitan bersama. Kegiatan itu tanpa menerapkan prokes yang memadai. Kalau dilakukan dengan prokes yakin tidak akan sebanyak ini,” katanya. (dwi/sky)

Sleman