RADAR JOGJA – Sugiyanto tengah asyik memainkan wayang-wayang buatannya. Tanpa instrumen gamelan yang mengiringi. Suara gamelan dia ganti dengan suara dari mulut. Ya, dia adalah dalang wayang tingklung kardus. Di balik kepiawaiannya itu, ada faktor kepepet.

MEITIKA CANDRA LANTIVA, Sleman, Radar Jogja

Suara Sugiyanto menggelegar. Menggema memenuhi ruang terbuka di bantaran Kali Biru, wisata desa Padukuhan Jogkangan, Tamanmartani, Kalasan, Sleman, Minggu (23/5). Begitu Werkudoro datang, suara mulutnya semakin lantang, menirukan tabuhan gong yang dipukul keras. Lalu, item lain gamelan saling sahut menyahut keluar dari mulutnya. Suasana menjadi cair tatkala punokawan datang. Seketika menghibur penonton. Memancing tawa.

Begitulah aksi Sugiyanto, dalang “kakean cocot” alias dalang wayang tingklung. Pertunjukan wayang tanpa diiringi musik. Dan, hanya mengandalkan suara mulut di sepanjang pementasan. “Ini lakonnya semar bangun kayangan,” cetus pria asli Jongkangan itu.

Tak ada rasa capek. Selama dua jam dia terus mengoceh. Selingan jeda ada, tapi tidak banyak. Yang dia rasakan hanya senang. Senang bermain wayang. Wayangnya, buatannya sendiri. Dari kertas kardus bekas. Kemudian dia gambar. Meniru buku SD, pepak Bahasa Jawa.

Diceritakan, alasan menjadi dalang wayang tingklung karena kepepet. Dua tahun lalu, dia jatuh dari pohon setinggi 15 meter. Akibatnya, dia menderita retak tulang punggung. Menolak operasi, dia memilih pengobatan terapi. “Ini berdampak pada fisik saya. Nggak bisa kerja berat,” kata pria berusia 53 tahun ini.

Dia yang sebelumnya bekerja di pabrik tabung gas, 1,5 tahun ini harus menggeluti profesi baru. Menjadi dalang dadakan, wayang tingklung tadi. Beruntung waktu kecil memiliki hobi menonton wayang kulit. Rupanya, ilmunya itu berguna. Di saat dia tak bisa lagi kerja berat, dia justru terpacu membuat wayang sendiri dengan modal skill menggambar yang tak pernah ia pelajari dari manapun. Otodidak.

Kendati begitu, semua ia lakoni dengan perasaan senang. Sembari terus belajar mendalang, ia semakin mengepakkan sayap. Yang awalnya kerap minder saat bertemu dengan dalang lain, ia tepis. Dia semakin pede karena perlahan menemukan jati dirinya. Hingga kini tawaran manggung di luar kota pun dia ladeni. “Asal dijemput. Perjalanan diurusi,” ujarnya.

Dia tidak mematok tarif. Seikhlasnya, sesuai kemampuan pengundang. Tak hanya di Sleman, peminatnya juga dari Gunungkidul hingga Temanggung. Dia juga laris manggung di lokasi wisata, dulu sebelum pandemi. “Pandemi, ya agak sepi. Permintaan juga pilih-pilih,” ungkapnya.

Dia tak sembarangan menerima dari luar kota. Kalau syarat protokol kesehatan (prokes) belum dipenuhi. Dia sendiri khawatir terpapar Covid-19, yang dampaknya berbahaya bagi kesehatan.

Di balik kesederhanaannya, Sugiyanto memiliki cita-cita besar. Melestarikan wayang tingklung. Tak kenal lelah, dia mengenalkan kepada anak-anak sekitar. Mengajak mewarnai wayang. Mengenalkan wayang, mulai dari gambar, selanjutnya perlahan-lahan cara memainkannya.

“Yang tertarik ada, tapi nggak banyak memang. Tapi kita paksa, harus dikenalkan biar mereka terbiasa dan menjadi paham,” tandasnya. (laz)

Sleman