RADAR JOGJA – Pengelola wisata desa Taman Raja Balitung, Pandukuhan Jogkangan, Tamanmartani, Kalasan, Sleman berupaya menghidupkan kembali obyek wisata yang pasang surut akibat pandemi Covid-19. Meski hal ini tidak mudah, pengelola berupaya menjual paket budaya. Dengan memberlakukan pengunjung wisata lokal.

Hal ini, untuk mengantisipasi persebaran Covid-19. Sekaligus untuk memupuk rasa handarbeni budaya setempat. Baik untuk masyarakat lokal maupun pengunjung wisata.”Paket wisata budaya kami sediakan. Ada sejarah raja buleleng, batu gilang dan aneka kesenian,” ungkap Ketua Pengelola Wisata Desa Taman Raja Balitung Budi Raharjo di lokasi, Senin (23/5).

Kendati begitu, saat ini pengunjung dibatasi wisatawan lokal. Hanya wilayah DIJ dan wilayah Klaten perbatasan, dekat dengan lokasi setempat. Dan belum diizinkan menginap. Pertunjukannya pun dibatasi. Sesuai permintaan kelompok tertentu dan tetap dalam pembatasan agar tak terjadi kerumunan. Tetap menjaga prokes.”Paket wisata mengangkat potensi setempat,” ungkapnya. Salah satunya, menampilkan kreasi tari tradisional dan wayang tingklung yang kini hampir punah.

Sasarannya variatif. Mulai anak-anak sekolah dan umum. Selain menikmati pertunjukan, ada pula paket workshop. Yakni, membuat wayang kardus hingga memainkannya.”Memang tidak mudah, namun dengan kerjasama saling getok tular mengajak keluarga dan teman-teman warga lokal, dapat membantu pertumbuhan wisata desa ini,” tutur Budi.

Sehingga meski pandemi, obwis tetap aktif sebagai ruang publik. Secara perlahan, dapat menjadi pemasukan warga. Warga dapat membuka lapak jualan kuliner dan lainnya. Wisata desa ini dibentuk dua tahun lalu. Sebelum diterjang pandemi, wisata ini mulai digandrungi wisatawan. Tak hanya lokal, tetapi sudah kunjungan nasional dan internasional. Namun, karena sejumlah aturan pembatasan beberapa pesanan masuk dibatalkan.

Diceritakan, dibalik pesona wisata ini memiliki daya tarik tersendiri. Yaitu, terdapat dua mata air yang tak pernah surut. Berjarak sekitar 100 meter daei lokasi ini, juga terdapat Sendang Raja Buleleng. Sebagai tempat favoritnya mandi. Rerimbunan pohon menjulang ini untuk menjaga kelestarian air.
Konon, lokasi seluas dua hektare itu menjadi tempat perburuan Raja Buleleng, berburu burung perkutut. Dilokasi juga pernah ditemukan batu-batuan candi. Yang saat ini sudah diamankan oleh Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) DIJ.

Hendri Triwibowo, 43, warga sekitar mengungkapkan, adanya wisata desa ini dapat mendukung pertumbuhan warga sekitar. Masyarakat yang menganggur ikut berjualan. Begitu juga saat pandemi ini. Begitu ada acara, warga bisa menyiapkan makanan. “Meski sedikit, sangat membantu. Nyatanya, meski pandemi peminat kesenian di lokasi masih ada,” imbuhnya. (mel/pra)

Sleman