RADAR JOGJA – Pusat Studi Pancasila (PSP) UPN Veteran Yogyakarta (UPNVY) meminta surat edaran Gubernur DIJ nomor 29/SE/V2021 tentang Memperdengarkan Lagu Indonesia Raya dikaji kembali. Alasannya supaya kesakralan lagu Indonesia Raya tersebut tak berkurang.

Rektor UPNVY Muhammad Irhas Effendi M.S mengatakan, sudah ada aturan dalam UU nomor 24 tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan, yang mengatur saat lagu kebangsaan Indonesia Raya diputar. “Kami sepenuhnya mendukung upaya yang menumbuhkan semangat nasionalisme, tapi sudah ada aturan yang mengaturnya,” kata Irhas dalam jumpa pers di Kantor PSP UPNVY Rabu(19/5).

Hal itu menanggapi rencana Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X dan Gerakan Indonesia Raya Bergema Forum Rakyat Indonesia untuk Indonesia (For You Indonesia) mencanangkan gerakan kumandang lagu Indonesia Raya setiap hari pukul 10.00. gerakan tersebut akan dicanangkan HB X hari ini (20/5) di Bangsal Kepatihan.

Irhas mencontohkan, dalam pasal 62 UU nomor 24 tahun 2009, disebutkan, setiap orang yang hadir pada saat Lagu Kebangsaan diperdengarkan dan/atau dinyanyikan, wajib berdiri tegak dengan sikap hormat. Dia khawatir hal itu sulit diwujudkan setiap harinya. Apalagi pada pukul 10.00, saat sibuknya aktivitas warga. Karena itu, Irhas menilai perlu dilakukan sosialisasi yang masif dengan aturan dalam SE tersebut sebelum diberlakukan.“Ada kesakralan saat lagu Indonesia Raya diperdengarkan yang perlu dijaga,” pesannya.

Irhas juga mengkhawatirkan, tanpa sosialisasi yang menyeluruh ke semua lapisan masyarakat, pada akhirnya justru akan menganggap biasa saja saat lagu ciptaan WR. Supratman tersebut diperdengarkan. Menurut dia, yang terpenting dalam kehidupan berbangsa adalah setiap indovidu menyadari nilai-nilai nasionalisme dan diinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, Ketua PSP UPNVY Lestanta Budiman meminta Pemprov DIJ mengkaji kembali SE tertanggal 18 Mei 2021 tersebut. Menurut dia, sebelum diberlakukan hendaknya perlu ada pengkajian dan penelitian yang lebih komperhensif. Termasuk aspek hukum, sosiologi dan unsur lainnya. “Apalagi ini lagu kebangsaan Indonesia Raya, ada aturan dalam UU bagi pelanggarnya,” kata dia.

Pria yang akrab disapa Lobo ini mengaku, sebelumnya juga masuk dalam For You Indonesia. Pada awalnya, kesepakatannya adalah pemutaran lagu-lagu kebangsaan, selain Indonesia Raya. Dia mengusulkan lagu Garuda Pancasila. Pemutarannya pun pada pukul 14.00. Bukun pukul 10.00. “Pukul 14.00 untuk menjadi semangat, karena jam-jam itu biasanya sudah ngantuk,” ungkapnya.(cr1/pra)

Sleman