RADAR JOGJA – Di tengah pandemi Covid-19 ini, masyarakat Sleman diimbau agar selalu waspada terhadap virus dengue yang disebabkan oleh nyamuk aedes aegypti. Karena dampak yang ditimbulkan tak kalah fatal dengan Covid-19, dapat menyebabkan kematian.

Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) berupaya untuk melakukan pemberantasan nyamuk penyebab demam berdarah dengue (DBD) tersebut.
Pemberantasan dilakukan dengan Si Wolly Nyaman, merupakan penerapan metode wolbachia untuk menekan penularan DBD.

program Dinkes berkolaborasi dengan World Mosquito Program (WMP) Jogjakarta, Universitas Gadjah Mada serta didukung pleh Yayasan Tahija.
Kepala Dinkes Sleman Joko Hastaryo mengungkapkan, perkembangan kasus DBD di bumi sembada mengalami peningkatan signifikan pada 2020. Mencapai 810 kasus, dengan jumlah korban kematian ada 2 orang. Secara periode perhitungan kasus empat tahunan, jumlah ini hampir melampaui puncak kasus pada 2016. Dengan angka kasus sebanyak 880 dan meninggal dunia ada 9 orang.

Sementara untuk kasus tahun ini di periode Januari hingga Mei, kasusnya tak semasif tahun lalu. Puncak DBD yang biasanya jatuh di Januari dan Februari, kasusnya cenderung landai. Meski begitu, Joko menegaskan gerakan pemberantasan nyamuk akan terus dilakukan. “Selain dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN), kita akan canangkan Si Wolly Nyaman itu,” ujar Joko saat menggelar rilis di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman, Rabu (19/5).

Tim WMP Jogjakarta Riris Andono Ahmad menjelaskan, program dengan metode wolbachia ini dilakukan dengan melepas nyamuk ber-wolbachia dirumah warga. Caranya dengan meletakkan ember berisi telur nyamuk aedes aegypti yang mana bagian atas ember tersebut diberi lubang dan ember tersebut diberi air. Setelah 14 hari telur-telur tersebut akan menetas menjadi nyamuk dan akan keluar dengan sendirinya melalui lubang ember.

“Nyamuk-nyamuk tersebut akan kawin dengan nyamuk lokal. Sehingga keturunannya akan menumbuhkan nyamuk ber wolbachia, yang tidak dapat mengeluarkan vieus dengue,” ungkap Riris di lokasi yang sama.

Implementasi program ini masuk dalam intruksi Bupati Sleman Nomor 09/Instruksi/2021. Dengan menerapkan teknologi ini, diharapkan angka kasus DBD di kabupaten Sleman dapat terus ditekan. (mel/bah)

Sleman