RADAR JOGJA- Kabupaten Sleman mulai memakai teknologi Wolbachia untuk semakin menekan angka kasus Demam Berdarah. Teknologi tersebut akan diterapkan di 13 kecamatan yang memiliki endemik tinggi DBD.

Kepala Dinas Kesehatan Sleman, Joko Hastaryo mengatakan, untuk jumlah kasus DBD mengalami penurunan daripada tahun 2020. “Di tahun 2020, ada kasus kejadian 810 dengan jumlah meninggal dunia ada 2.

Dari data Dinas Kesehatan Sleman, sejak Januari sampai Mei, tercatat 102 kasus DBD. “Puncak DBD yang biasanya terjadi di Januari relatif sedikit, ada 27 kasus DBD, ” jelasnya, Rabu (19/5).

Joko menambahkan, pihaknya selama ini telah melakukan sosialisasi pemberantasan DBD dengan 3M. “3M sudah melekat, menguras bak air 1 minggu sekali, menutup bak air, dan mengubur atau memusnahkan tempat-tempat yang berpotensi untuk berkembang biak, seperti ban, barang-barang bekas, dan botol plastik. Selain itu, kami juga melakukan fogging atau pengasapan dan penaburan abate,”ujarnya.

Tim WMP (World Mosquito World),Riris Andono Ahmad menerangkan, teknologi Wolbachia memiliki dampak panjang dengan epifikasi 77 persen, misalnya kalau ada 100 kasus di sebuah wilayah, bisa mereduksi sampai 23 kasus DBD.

“Uji pelepasan teknologi Wolbachia, kami memberikan akses kepada warga untuk menjadi orangtua asuh. Warga yang terlibat sebanyak 22.223 dari 39 kalurahan yang terdiri dari 588 padukuhan. Mereka akan merawat nyamuk dari telur sampai dewasa selama 14 hari.

Teknologi Wolbachia ini seperti vaksin, tapi yang divaksin nyamuknya. Ia mengatakan nyamuk yang diberi bakteri Wolbachia, tidak bisa menularkan dengue lagi. “Dari sisi keamanan, teknologi Wolbachia juga memiliki resiko kecil dan ramah lingkungan.

“Nyamuk jantan berwolbachia bila kawin dengan nyamuk betina lokal, telurnya akan menetaskan nyamuk berwolbachia. Jadi teknologi ini berkesinambungan, sustainable,” jelasnya.(sky)

Sleman