RADAR JOGJA- Setiap daerah punya tradisi unik selepas salat id. Suasana malam takbir Idul Fitri 1442 Hijriah tampak begitu meriah di Dusun Jambon, Trihanggo, Gamping Rabu malam (12/5). Pasalnya, tradisi Nyumet Mecon (menyalakan petasan) setiap akhir bulan Ramadan tetap diadakan walaupun ada pembatasan terkait pandemi Covid-19.

Ratusan warga tampak antusias menunggu ribuan petasan berbagai ukuran dinyalakan selepas takbir keliling. Radar Jogja berkesempatan melihat lebih dekat prosesi Nyumet Mercon yang dilakukan warga Dusun Jambon bersama Panitia Ramadan yakni Remaja Islam Masjid (Risma) Nurul Ikhsan.

Usai pelaksanaan Takbir Keliling, baik anak-anak, remaja hingga orang tua memadati area jalan sawah yang berada di seputaran masjid.Panitia tampak sibuk memasang tanda batas aman dengan tali rafia.

Ada pula sekelompok remaja sedang serius dan berhati-hati menata petasan-petasan yang akan dinyalakan secara berurutan.

Semuanya tersusun rapi berjejer di gerbang belakang Gereja Santa Lidwina, Bedog. Kebetulan jarak Masjid dan tempat menyalakan petasan bersebelahan dengan Gereja umat Katolik. Hanya berjarak sekitar 100 meter saja.

Berbagai macam petasan ada. Semuanya dibuat oleh Risma Nurul Ikhsan, Jambon. Diantaranya petasan renteng, petasan terbang (sosdor), ada pula petasan tunggal dengan berbagai ukuran mulai dari 10 cm hingga 30 cm.

Usai dinyalakan satu persatu, dalam hitungan detik, petasan itu meledak dan meninggalkan serpihan kertas yang mengotori jalanan. Asap mengepul tebal bau bubuk petasan sangat menyengat hidung.

Salah satu Pengurus Risma Nurul Ikhsan Satya Aji mengatakan Nyumet Mercon merupakan tradisi rutin yang diadakan tiap tahun. Hal tersebut dilakukan untuk menutup bulan Ramadan sekaligus menyambut Idul Fitri 1 Syawal esok harinya.

“Tradisi Nyumet Mercon ini sudah sejak dahulu dilakukan secara turun temurun, dari generasi ke generasi,” katanya ditemui disela acara.

Aji menjelaskan dua tahun ini, selama pandemi tradisi Nyumet Mercon tetap dilaksanakan walaupun secara sederhana. Sebelumnya bisa lebih meriah lagi. “Bahkan bisa sampai subuh sebelum salat id malahan,” jelasnya.

Terkait keamanan, pihaknya bersama pengurus yang lain telah menyiapkan secara matang. Pengumpulan materi (kertas) dilakukan pas awal Ramadan. Ijin keramaian warga sekitar hingga pembuatan petasannya dipertengahan Ramadan. “Semuanya dikerjakan kompak, bersama-sama selepas salat tarawih dan subuh,” ungkapnya.

Untuk membuat ribuan petasan, Aji mengaku menghabiskan serbuk kimia untuk petasan sebanyak 7 kg. Belum termasuk serbuk sos yang digunakan membuat petasan terbang.

“Tentunya kami sangat berhati-hati, bagaimana caranya tetap aman. Kami buat bertahap sehingga tidak menumpuk. Hal ini untuk mengurangi resiko terbakar,” ujarnya.

Sementara itu, salah seorang tokoh masyarakat Cahyo saat ditemui mengatakan seluruh warga bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan ini. Dirinya terus mengawasi lancarnya acara hingga berakhir pukul 02.00 dini hari.

“Kami dari warga tetap mengawasi dari jauh, takutnya ada gesekan yang membuat acara jadi kacau. Tapi alhamdulillahnya berjalan lancar tanpa adanya kendala suatu apapun,” ujarnya.

Cahyo berharap tradisi ini bisa terus dilestarikan. Namun demikian dia berpesan kepada generasi muda untuk selalu cermat, berhati-hati, bijak dan selalu berkoordinasi. (naf/sky)

Sleman