RADAR JOGJA – Salat Id hari raya Idul Fitri 1442 hijriah di Kabupaten Sleman tahun ini boleh dilaksanakan berjamaah di masjid ataupun lapangan. Asalkan jamaahnya dalam lingkup padukuhan. Dan pelaksanaannya, berada di zona aman dari Covid-19 dan sesuai protokol kesehatan (prokes).

Sementara takbir keliling dan halal bihalal ditiadakan. Hal itu untuk menghindari kerumunan, mencegah terjadinya persebaran Covid-19 yang dapat memicu klaster.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Joko Hastaryo mengungkapkan, angka kasus positif Covid-19 dalam kurun waktu empat bulan ini terus meningkat. Tak jarang klaster muncul dalam kegiatan sosial termasuk tempat ibadah. Sehingga, masyarakat diimbau untuk benar-benar taat prokes. Anjuran prokes masih sama dengan prosedur pelaksanaan salat Id hari raya Idul Fitri tahun lalu. “Tetap menjaga jarak, dan kuota dibatasi 50 persen,” ungkap Joko saat menggelar di Pendopo Parasamya Pemkab Sleman, kemarin (4/5).

Penerapan prokes ini harus ditegakkan dengan ketat. Sebab, sulit mendeteksi bahwa jamaah aman dari paparan Covid-19. Meski cuci tangan dan pakai masker dilakukan, jika salat dilaksanakan tanpa menjaga jarak penularan (Covid-19, red) kemungkinan tinggi. Yang paling aman, salat Id digelar di rumah saja sesuai edaran atau imbuan dari Kementrian Agama (Kemenag). “Boleh di masjid asal hanya dilakukan oleh orang kampung. Kecuali zona oranye dan merah, dilarang,” ungkap Joko.

Dia menegaskan, imbauan yang masih kerap dilanggar masih ditemui masjid yang tetap menggelar tikar salat. Padahal, sudah dianjurkan selama pandemi tidak memasang karpet yang dapat memicu persebaran Covid-19. “Monitoring kebiasaan ini kami gencarkan kembali, berkoordinasi dengan satgas kapanewon hingga tingkat RT,” katanya.

Kebijakan pelaksanaan salat Id ini masih mengacu pada Instruksi Bupati Nomor 451/0841 dan pada aturan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro dalam surat edaran Bupati Sleman Nomor 10 tahun 2021. Harapannya, pelaksanaan ibadah bulan suci Ramadan dan perayaan hari besar umat muslim ini dapat berlangsung dengan aman dan nyaman tidak memicu merebaknya kasus.

“Jangan sampai kejadian kasus Covid-19 di India itu menimpa di kita. Semoga terhindar itu,” imbuh Plt Asisten Sekretaris Daerah Bidang Administrasi Umum Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman Kunto Riyadi di lokasi yang sama.
Dia menambahkan, kegiatan halalbihalal diimbau untuk dilakukan virtual, mengurangi supaya tidak terjadi kontak langsung dan kerumunan.

Sekretaris Daerah (Sekda) Sleman Harda Kiswaya mengatakan, pelaksanaan salat Idul Fitri diruang terbuka yang biasa dilaksanakan di Lapangan Dengung, Tridadi, Sleman juga belum diizinkan. Pemkab menolak tegas pemanfaatan area tersebut. Sebab memiliki konsekuensinya besar, berada di titik keramaian. Dikhawatirkan pemantauan akan sulit dilaksanakan. “Tempatnya luas, kerumunan tak bisa dihindari,” ucap.

Berdasarkan peta zona persebaran Covid-19 di Kabupaten Sleman per 1 Mei termasuk tinggi. Yakni, satu zona merah di Kapanewon Sleman. Lima zona oranye, berada di Kapanewon Cangkringan, Ngemplak, Ngaglik, Minggir dan Sayegan. Sedangkan zona kuning berada di Kapanewon Godean dan Pakem. (mel/bah)

Sleman