RADAR JOGJA – Pemerintah pusat telah menerbitkan surat edaran larangan mudik lebaran bagi masyarakat, terhitung sejak 22 April hingga 24 Mei mendatang. Namun, pemerintah daerah juga menyediakan selter karantina bagi warga yang nekat mudik.

Di Kabupaten Sleman, pemkab mendorong kalurahan mandiri menyiapkan selter karantina bagi pemudik. Kendati begitu, belum semua kalurahan dapat menyiapkan fasilitas selter karantina. Seperti halnya di Kalurahan Sendangadi, Kapanewon Mlati, Sleman.

Menyikapi kebijakan pemerintah, ketua satgas pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro, Sendangadi, Pardjiyono mengungkapkan, pihaknya hanya memberikan imbauan agar warga tidak mudik. Pihaknya telah berkoordinasi dan menyarankan sebelum masuk ke lingkungan kampung, agar melakukan tes swab mandiri terlebih dahulu.

“Karena jika pemudik masuk dan melakukan karantina terlebih dahulu, kalurahan mempunyai keterbatasan,” ungkap Pardjiyono, Jumat (30/4).
Kendala yang dihadapi, antara lain, tempat karantina. Di kalurahan ini belum memiliki ruang karantina yang memadai, yang mampu menampung isolasi dalam jumlah besar. Jika harus tetap memfasilitasi pemudik yang jumlahnya juga belum pasti ini, kalurahan bakal kerepotan.

”Bisa saja memakai gedung sekolah, tapi melihat kondisi, sebentar lagi pembelajaran tatap muka akan dimulai tidak memungkinkan,” katanya Jumat (30/4).

Diakui kalurahan tidak mampu untuk memberikan fasilitasi kasur, kamar mandi, dapur dan lainnya. ”Sebab, anggaran (kalurahan, red) kan terbatas,” terang dia.

Tidak hanya itu, diakui pengawasan terhadap para pemudik pun sangat terbatas. Lebaran di tengah pandemi Covid-19 sudah berjalan dua kali. Diakui, terkait larangan mudik dan penyiapan selter baru diketatkan tahun ini. Sejak dulu, yang hanya disediakan itu selter untuk isolasi mandiri ketika warga terpapar Covid-19. Itu jika selter di lingkungan pemkab sudah tidak memungkinkan atau sudah penuh. “Selter isoman yang dimiliki pun kapasitasnya juga terbatas, hanya untuk empat orang. Idealnya itu,” kata Pardjiyono.

Dijelaskan, selter berlokasi di area pemukiman warga. Hanya berjarak 20 meter dari rumah warga. Dan secara spesifik, jarak selter belum memenuhi standar sebagaimana anjuran syarat selter. Dimana, selter darurat Kalurahan Sendangadi ini memanfaatkan bangunan puskesmas pembantu yang sudah tidak terpakai dan sudah dipindah di gedung baru. Bangunan itu, hanya memiliki dua kamar mandi, empat kamar tidur, ruang tamu dan dapur.

“Sebelumnya, selter memanfaatkan gedung TK, tapi karena sebentar lagi sekolah tatap muka mau diaktifkan, maka diputuskan pindah ke gedung puskesmas,” katanya.

Nah, untuk mengantisipasi pemudik, sudah dilakukan koordinasi dengan warga. Titik tengahnya, setiap warga yang mudik ataupun hendak masuk kampung diwajibkan menjalani swab mandiri terlebih dahulu. Jika dinyatakan negatif, baru diizinkan masuk. Tetapi, jikalau positif harus bersedia melakukan karantina di selter terbatas itu.

Bila masih memungkinkan, jelasnya, memanfaatkan selter isolasi Rusunawa Gemawang ataupun Gedung Asrama Haji Sinduadi, Mlati.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (PMK) Sleman Budiharjo menyebut, dari 86 total Kalurahan di Kabupaten Sleman, baru 37 kelurahan yang memiliki selter. Berbagai alasan belum memiliki selter. Selain keterbatasan tempat (ruang) juga keterbatasan anggaran. “Juga, karena warga terpapar Covid-19 tanpa gejala (OTG) kebanyakan lebih nyaman melakukan isolasi mandiri (isoman). Kalau yang sudah punya (selter, red) masih aktif,” pungkasnya. (mel/bah)

Sleman