RADAR JOGJA – Kakorlantas Irjen Pol Istiono meminta setiap jajaran Ditlantas wilayah memiliki manajemen waktu yang baik. Kaitannya adalah penjagaan wilayah perbatasan selama larangan mudik 6 hingga 17 Mei. Penjagaan wilayah perbatasan sendiri berlaku 1X24 jam setiap harinya.

Menurutnya, apabila tak diatur dengan baik, kesehatan personel menjadi taruhannya. Terlebih pasca larangan mudik masih ada kebijakan pengetatan. Berlaku setelah masa larangan mudik hingga 24 Mei.

“Ini membuat petugas di lapangan harus mengeluarkan energi ekstra. Harus diatur shift penjagaannya, 8 jam setiap berjaga.

Tapi saya juga berpesan agar penjagaan all out dan ada terus,” jelasnya usai meninjau pos penyekatan Prambanan Sleman, Rabu (28/4).

Jenderal Polisi bintang dua ini tak menampik kondisi ini berdampak kepada personelnya. Mulai dari minim istirahat untuk mengawasi wilayah perbatasan. Masih ditambah apabila ada personel yang menjalani ibadah puasa.

Dia meminta setiap penanggungjawab wilayah memperhatikan kondisi kesehatan personelnya. Berupa suplai asupan vitamin selama bertugas. Lalu memantau kondisi kesehatan secara berkala.

“Karena saat nyekat-nyekat itu engga boleh ada istirahat oleh karena itu pola istirahat dan pola energinya artinya vitamin suport di lapangan harus terpenuhi,” pesannya.

Jogjakarta sendiri memiliki 10 titik pos penyekatan. Terdiri dari 4 pos di wilayah perbatasan Jogjakarta dengan Jawa Tengah. Sementara sisanya berada di dalam perkotaan.

Dia berpesan agar setiap pos memiliki pos kesehatan. Fungsinya selain untuk para personel juga warga masyarakat. Agar penjagaan setiap pos penyekatan lebih optimal.

“Tapi diluar itu paling penting adalah kesadaran masyarakat juga ikut untuk mengurangi perjalanan, mengurangi mobilitas untuk mencegah penyebaran Covid-19 ini,” ujarnya.(dwi/sky)

Sleman