RADAR JOGJA – Ditlantas Polda DIJ memastikan 10 titik penyekatan telah pasti. Detailnya 4 pos berada di wilayah perbatasan dengan Jawa Tengah. Tepatnya di kawasan Prambanan, Tempel di wilayah Sleman, Temon Kulonprogo dan Gunungkidul. Operasional pos berlaku hingga 24 Mei.

Dirlantas Polda DIJ Kombes Pol Iwan Saktiadi menegaskan keberadaan 4 pos wilayah perbatasan sangatlah krusial. Perannya untuk menjaring secara ketat kendaraan yang berasal dari luar Jogjakarta dan Jawa Tengah. Termasuk dari wilayah yang tergolong zona merah sebaran Covid-19.

“Empat pos ini berbatasan langsung dengan wilayah Jawa Tengah, sehingga memang sangat vital keberadaanya. Memastikan tak ada kendaraan plat luar terutama warga ber-KTP luar Jogjakarta yang masuk selama larangan mudik lebaran,” jelasnya ditemui di pos penyekatan Prambanan Sleman, Rabu (28/4).

Keberadaan enam pos lainnya bukan tak penting. Perannya juga sama, yaitu mengawasi setiap kendaraan yang melintas. Terlebih keenam pos berada di wilayah perkotaan.

Iwan tak menampik akan ada pelaju yang lolos dari pengawasan. Ini karena potensi masuk melalui jalur tikus bisa terjadi. Langkah antisipasi adalah pengawasan oleh keenam pos di wilayah perkotaan.

“Kalau yang pos di dalam itu di Kota Jogja, Bantul dan Kulonprogo. Contohnya kota itu di Wirobrajan, mengantisipasi pergerakan masyarakat yang ada di kota. Mulai dari yang lolos atau yang bertujuan wisata, akan bisa sekat di sana,” katanya.

Sebagai ring kedua, pos sisi perkotaan juga memiliki peran yang penting. Pemilihan lokasi adalah titik dengan mobilitas tinggi. Seperti ruas jalan Daendels di wilayah Kulonprogo. Lalu ruas jalan perbatasan antara Kabupaten Bantul dengan Kabupaten Kulonprogo.

Skema ini, lanjutnya, menerapkan penyekatan berlapis. Tujuannya agar upaya skrining kendaraan dan pelaju luar Jogjakarta lebih optimal. Terutama selama masa larangan mudik berlangsung.

“Jalan alternatif maupun jalan utama tetap dijaga secara ketat. Jogjakarta memang memiliki potensi mobilisasi yang tinggi. Apalagi selama momen lebaran memang menjadi daerah tujuan mudik,” ujarnya.

Upaya antisipasi penyekatan terbagi dalam tiga rentang waktu. Pengetatan sebelum masa mudik dari 22 April hingga 5 Mei. Lalu larangan mudik dari 6 hingga 17 Mei. Berlanjut dengan pengetatan dari 18 hingga 24 Mei.

Saat masa pengetatan, Polda DIJ juga melakukan rapid tes antigen secara acak. Tindakan ini guna memastikan para pelaju dalam kondisi sehat. Tentunya tidak bergejala atau terpapar Covid-19.

“Gratis itu, apabila reaktif ataupun indikasi positif Covid-19, koordinasikan dengan Satgas Covid-19 daerah untuk kemudian dilakukan treatment. Seperti langkah-langkah protokol kesehatan terhadap orang yang ditengarai terpapar Covid-19,” katanya.

Iwan berharap minat masyarakat untuk mudik berkurang. Terlebih upaya menjaga wilayah perbatasan sangatlah ketat. Kebijakannya adalah putar balik ke daerah tujuan.

Pengawasan semakin ketat memasuki 6 hingga 17 Mei. Operasi penyekatan berlangsung selama 24 jam penuh. Setiap pos menerapkan sistem jaga bergantian dalam 8 jam.

“Kecuali pelaku perjalanan luar daerah yang mendapat dispensasi. Kalau diluar itu yang berniat masuk atau melewati Jogjakarta akan langsung dihalau untuk putar balik,” tegasnya.(dwi/sky)

Sleman