RADAR JOGJA – Puncak peringatan Hari Bhakti Pemasyarakatan Ke-57 di Lapas Kelas IIB Sleman berjalan penuh khidmat Selasa (27/4). Upacara peringatan tahun ini tidak berbeda dengan tahun lalu dilaksanakan secara virtual serentak di seluruh Indonesia.

Melalui aplikasi zoom yang terpusat di Graha Pengayoman Kemenkumham, Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan.

Peserta upacara disetiap Lapas dibatasi hanya 20 orang saja. Kali ini, upacara virtual di Lapas Cebongan diselenggarakan di Aula Lapas Cebongan dipimpin Kepala Seksi Bimbingan Narapidana/Anak Didik dan Kegiatan Kerja (Binadik dan Giatja) Lapas Cebongan Ridwan.

Ridwan menyebut pelaksanaan kegiatan telah memenuhi protokol kesehatan sesuai anjuran Pemerintah. “Untuk itu, Upacara virtual ini dilaksanakan juga sekaligus untuk mencegah penyebaran Covid -19, yang masih melanda hingga saat ini,” katanya.

Dihubungi terpisah, Kepala Lapas Kelas IIB Sleman H. Kusnan menjelaskan peringatan Hari Bhakti Pemasyarakatan (HBP) Ke-57 tahun ini merupakan momentum peningkatkan kualitas diri bagi seluruh Insan Pemasyarakatan. “Semoga pemasyarakatan bisa lebih maju, melangkah pasti dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” katanya.

Lebih lanjut Kusnan menuturkan, saat ini Lapas Cebongan sedang berbenah membangun zona integritas menuju organisasi yang berpredikat wilayah bebas korupsi dan wilayah birokrasi bersih melayani.

“Tentunya sukses dan berintegritas dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan sangat baik dan memuaskan. percaya diri, kerja pasti,” ujarnya.

Sementara itu, dalam sambutannya secara virtual Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Republik Indonesia Mahfud MD berpesan kepada seluruh jajaran Pemasyarakatan pada khususnya dan jajaran Kementerian Hukum dan HAM pada umumnya bahwa, Peringatan Hari Bhakti Pemasyarakatan ke-57 merupakan momentum yang tepat untuk merefleksikan kembali apa yang menjadi nawaitu para pendahulu dan peletak dasar pemasyarakatan.

“Institusi Pemasyarakatan adalah sebuah simbol dari upaya pendobrakan warisan kolonial, yang tidak mencerminkan ideologi Pancasila. Namun apalah artinya. Simbol tidak akan berarti tanpa orang-orang yang memberinya makna,” katanya.

Mahfud mengatakan dalam pendekatan sistem Pemasyarakatan, membangun kapasitas dilaksanakan melalui pembinaan yang berkesinambungan, sistematis, dan terarah. Tentunya dengan mengedepankan perlakuan yang manusiawi dan menghormati hak-hak mereka sebagai manusia.

“Ini lah keyakinan yang sampai saat ini perlu kita perjuangkan, kita sebarkan, kita tularkan agar menjadi kesadaran kolektif dan akhirnya menjadi budaya bersama. Sehingga, dalam memaknai 57 tahun menjadi sebuah perjalanan menuju perubahan yang lebih baik,” terangnya. (naf/sky)

Sleman