RADAR JOGJA -Polda DIJ  menetapkan tujuh tersangka SP, SD, WS, SM, WI, WS dan IM, pelaku penangkapan satu ekor penyu jenis lekang yang dilindungi negara berdasarkan Pasal 40 ayat (2) Jo Pasal 21 ayat 2 huruf a Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya. Ketujuhnya terancam hukuman pidana penjara paling lama 5 tahun.

Tujuh nelayan Watulawang Tepus Gunungkidul nekat menyembelih penyu lekang. Aksinya ini terbongkar berkat rekaman video yang tersebar di aplikasi Tik-Tok. Dalam video tersebut nampak para nelayan mengangkat penyu dari laut menuju pantai.

Berkat rekaman ini Ditpolairud Polda DIJ berhasil mengamankan ketujuh tersangka. Hasil penyidikan, awalnya penyu tak sengaja tertangkap. Bukannya dilepas, para nelayan justru menggotong ke daratan. Alasannya untuk disantap sebagai hidangan.

“Dari video TikTok yang sempat viral itu berisi adegan beberapa orang yang melakukan penangkapan penyu. Terjadi pada jumat 26 Maret 2021 di Pantai Watulawang, Tepus, Gunungkidul. Dikuatkan dengan laporan dari BKSDA DIJ juga,” jelas Kasubdit Gakkum Ditpolairud Polda DIJ AKBP Fajar Pamuji, ditemui di Mapolda DIJ, Kamus (22/4).

Bermodalkan rekaman video, Ditpolairud Polda DIJ bersama BKSDA DIJ melakukan pelacakan. Hingga akhirnya didapatkan lokasi penangkapan penyu lekang. Bersamaan dengan itupula dilakukan pengamanan kepada tujuh nelayan Pantai Watulawang.

Pamuji menuturkan, ketujuh tersangka menjalani peran yang berbeda. Ada yang menangkap dan menyembelih, adapula yang memotong daging dan mengangkut penyu. Walau sempat dipotong, namun daging penyu belum dikonsumi oleh nelayan.

Polisi mengamankan sejumlah barang bukti. Mulai dari satu set alat pancing, satu tampar plastik, satu bilah. Adapula banner untuk membungkus daging. Juga ember untuk menaruh kotoran dan daging dari penyu.

Adapula pucuk bambu untuk membawa penyu dari lokasi ke tempat salah satu tersangka. Satu unit mobil Daihatsu Ferca juga kami sita. Digunakan untuk mengangkut penyu tersebut dari lokasi penangkapan menuju rumah salah satu tersangka.

Ketujuhnya terancam hukuman pidana penjara paling lama 5 tahun. Selain itu juga terancam denda maksimal Rp 100 juta.¬† “Ketujuhnya warga Tepus Gunungkidul semua. Tidak ditahan karena kooperatif selama proses penyelidikan dan penyidikan,” ujarnya.

Kasie Konservasi Wikayah I BKSDA DIJ Untung Suripto memastikan tindakan para nelayan menyalahi hukum. Tepatnya Undang-Undanh Nomor 5 Tahun 1990. Lebih detil diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999. Bahwa penyu lekang termasuk satwa yang dilindungi.

Penyu lekang, lanjutnya, masuk dalam kategori penyu langka di dunia. Tercatat di perairan Indonesia menjadi habitat alami bagi penyu. Enam dari tujuh penyu langka memiliki habitat di perairan Indonesia.

“Jika ditangkap, keseimbangan ekosistem alam terganggu. Pada umumnya penyu dapat menjaga keseimbangan ekosistem terutama diperairan disekitar terumbu karang,” katanya.

Dalam kesempatan ini, BKSDA DIJ juga mengapresiasi langkah pengunggah video. Menurutnya perlu keberanian untuk bersuara di media sosial. Hingga akhirnya terbongkar aksi yang melanggar norma hukum.

“Kalau tidak ada pengunggahnya tentu kasus ini tidak akan terungkap. Kami berharap masyarakat pada umumnya memahami dan menyadari bahwa apa yang telah ditetapkan oleh negara melalui undang-undang atau PP turunannya patut ditaati. Dalam hal ini terkait dengan satwa yang dilindungi,” ujarnya.(dwi/sky)

Sleman