RADAR JOGJA- Dispensasi nikah atau biasa disebut pernikahan dini cukup tinggi di Kabupaten Sleman. Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) Daerah Istimewa Jogjakarta menyebut angka pernikahan dini di DIJ cenderung mengalami Kenaikan dari tahun ke tahun.

Penyebab naiknya angka pernikahan dini melalui dispensasi nikah karena kehamilan tidak diinginkan (KTD).

Kepala Dinas DP3AP2 DIJ, Erlina Hidayati Sumardi mengatakan, kehamilan yang tidak diinginkan untuk kenaikannya bisa mencapai 3 kali lipat. “Daerah tertinggi untuk kehamilan tidak diinginkan yakni Kabupaten Sleman,” jelasnya, Rabu (21/4)

Erlina juga menyebut selain Kabupaten Sleman kabupaten lain yang menjadi daerah dengan angka tinggi kehamilan tidak diinginkan, yaitu Kabupaten Gunungkidul.

Dari dispensasi nikah yang tercatat di Pengadilan Agama masing-masing kabupaten/kota untuk tahun 2020, Kabupaten Sleman tercatat 358, disusul Kabupaten Gunungkidul 258, kemudian Kabupaten Bantul dan Kota Jogjakarta

“Temuan menarik ada 3 anak yang dimohonkan dispensasi nikah masih berusia 13 tahun,” katanya.

Sementara itu Kepala Dinas P3AP2KB Kabupaten Sleman, Mafilindati Nuraini mengakui pernikahan anak pada usia di Sleman ada kenaikan. “Memang pada tahun 2020 ada kenaikan. Ada pengaruh-pengaruh dari pandemi, tidak ada pembelajaran di sekolah, distop sama sekali,” tuturnya.

“Tahun 2020, kehamilan pada usia anak ada kenaikan yang drastis, lebih dari 100 persen dari tahun kemarin. Kurang lebih 200 kasus lebih.

Mungkin ada kejenuhan sehingga tanpa ada pengawasan yang baik dari orangtua terlibat pergaulan yang tidak baik. Datanya seperti itu, tapi perlu dilakukan kajian yang lebih mendalam lagi untuk membuktikan,” katanya. (sky)

Sleman