RADAR JOGJA – Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIJ resmi menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka. Tercatat ada 9 sekolah tingkat SMA dan SMK yang menjalani uji percontohan ini. Seluruhnya tersebar di masing-masing kabupaten dan kota di Jogjakarta.

Kepala Disdikpora DIJ Didik Wardaya berharap uji percontohan berjalan lancar. Tujuannya agar ada skema ideal dalam penerapan KBM tatap muka. Untuk kemudian diterapkan di semua sekolah secara umum.

“Mudah-mudahan uji percontohan ini bisa berjalan dengan baik kemudian nanti segera dikuti oleh sekolah-sekolah lain. Sehingga semua sekolah di Jogjakarta dengan adaptasi kebiasaan baru pembelajaran tatap muka, meskipun terbatas tapi bisa dilakukan bersama-sama,” jelasnya ditemui usai meninjau KBM tatap muka di SMKN 1 Depok Sleman, Senin (19/4).

Uji percontohan, tak hanya menjadi gambaran skema bagi tingkat SMA dan SMK. Metode KBM tatap muka juga akan diterapkan di tingkat SD dan SMP. Tentunya setelah menemukan skema yang ideal dalam penerapan protokol kesehatan.

Didik memastikan ada evaluasi berkala untuk uji percontohan. Targetnya berjalan selama 14 hari kedepan. Guna memastikan penyampaian materi KBM tatap muka tersampaikan ke siswa. Selain itu juga tidak muncul kasus atau klaster Covid-19 selama KBM berlangsung.

“Evaluasi paling tidak sepekan sekali atau paling tidak dua minggu atau 14 hari dari uji percontohan itu. Jika tidak terjadi gejolak munculnya klaster baru, kemudian penerapan prokes juga bisa dijalankan dengan baik itu segera diikuti sekolah-sekolah lain yang sudah siap,” katanya.

Didik meminta penerapan prokes berlaku ketat. Tak hanya bagi siswa tapi juga para guru dan sumber daya manusia lainnya. Tujuannya agar tak terjadi penularan atau muncul kasus Covid-19 di sekolah.

Munculnya kasus Covid-19 juga masuk dalam skenario KBM tatap muka. Sekolah otomatis mengentikan sementara proses KBM tatap muka yang berlangsung. Selanjutnya melakukan screening dengan koordinasi bersama pusat pelayanan kesehatan setempat.

“Itu sudah ada diprosedur operasional standarnya. Kalau memang terjadi penularan atau klaster, sekolah akan mengambil sikap untuk dihentikan  sementara kemudian koordinasi dengan pusat kesehatan terdekat tingkat kecamatan,” ujarnya.

Jajarannya juga mendata kesehatan siswa dan guru secara intens. Melalui peran Satgas Covid-19 di masing-masing sekolah. Apabila menunjukkan gejala atau sakit maka tidak diijinkan KBM tatap muka di sekolah.

Peran Satgas Covid-19 sekolah juga mendata zonasi sebaran kasus. Tepatnya di masing-masing kediaman siswa dan sekitar sekolah. Untuk kemudian menjadi evaluasi penyelenggaraan KBM tatap muka sehari-hari.

“Kami juga koordinasi dengan Dinkes. Terkait laporan zonasi Covid-19 skala mikro. Itu tentunya siswa dari daerah atau zona yang diskala paling mikro kalau ada yang merah tentu itu jangan masuk dulu ya di rumah dulu,” katanya.

Disinfeksi juga berlangsung rutin setiap harinya. Tepatnya setelah pergantian sesi KBM tatap muka. Kelas-kelas akan dibersihkan untuk menjadi ruang pembelajaran bagi siswa lainnya.

“Penyemprotan dilakukan secara periodik, setiap sore dan setelah pembelajaran dilakukan. Kami upayakan bersama supaya lebih aman,” jelasnya.(dwi/sky)

Sleman