RADAR JOGJA – Pelaksanan kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka di SMKN 1 Depok bukan berarti tanpa kendala. Tercatat ada 5 persen siswa kelas X yang memilih KBM secara daring. Angka yang sama juga terjadi untuk siswa kelas XI.

Kepala SMKN 1 Depok Suprapto tak menampik data tersebut. Keputusan menjalani KBM daring datang dari para orangtua siswa. Pertimbangannya adalah kekhawatiran apabila anaknya terpapar Covid-19.

“Yang belum diizinkan orangtuanya hanya 5 persen atau sekitar 30an dari 600 sekian siswa kelas X dan XI. Itu dari orangtua belum mengijinkan. Tetap belajar tapi KBM daring,” jelasnya ditemui di SMKN 1 Depok, Senin (19/4).

Walau begitu Suprapto menjamin pelaksanaan KBM tatap muka berjalan optimal. Terlebih seluruh guru dan karyawan telah menjalani simulasi protokol kesehatan. Mulai dari kedatangan siswa hingga proses KBM tatap muka di kelas.

Setiap siswa dan guru wajib mengecek suhu tubuh di gerbang sekolah. Apabila mencapai 37,3 derajat Celcius wajib istirahat terlebih dahulu. Apabila lolos, siswa dan guru wajib cuci tangan di tempat yang telah disediakan.

“Alur parkir hingga alur jalan kaki menuju kelasnya masing-masing dan duduknya sudah kami atur. Ketika masuk dari depan maka anak yang datang awal duduk di belakang sehingga tidak melewati temannya. Ketika pulang anak yang di belakang keluar duluan dan tidak saling melewati,” katanya.

Kapasitas kelas dan durasi KBM tatap muka juga telah dibatasi. Setiap kelas hanya boleh diisi maksimal 50 persen dari total kapasitas. Lalu setiap sesi mata pelajaran berlangsung selama 30 menit. Maksimal 3 jam untuk seluruh KBM tatap muka dalam sehari.

Alur jam kedatangan para siswa juga telah diatur. Untuk siswa kelas X datang 07.30 dan berakhir 10.30. Sementara untuk siswa kelas XI datang 08.30 dan berakhir 11.30.

“Kapasitas satu kelas maksimal 50 persen. Siswa kami kelas X, satu kelas 36 siswa maka maksimal hanya 18 siswa. Lalu tidak ada istirahat. Datang, belajar langsung pulang agar tidak terjadi kerumunan,” ujarnya.

Sebelum berangkat ke sekolah, para siswa juga melalui proses screening. Berupa pengisian data google form tentang kondisi kesehatan. Dokumen tersebut wajib diisi oleh para orangtua masing-masing siswa.

Data ini menjadi acuan proses KBM tatap muka. Apabila siswa menunjukan gejala sakit, maka wajib KBM daring. Kebijakan ini juga berlaku bagi para guru dan karyawan.

“Saat di kelas, meja juga diberi nomor sehingga jika terjadi sesuatu tracingnya mudah. Deketnya siapa (duduk samping), sehingga nomor absen kami ikuti nomor yang ada di meja,” katanya.(dwi/sky)

Sleman