RADAR JOGJA РRSUP dr Sardjito bersama Fakultas Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM tengah mengembangkan terobosan baru dalam terapi bagi pasien Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yakni menerapkan penggunaan sel punca (stem cell) pada   pasien Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) bergejala berat.

Basis yang digunakan adalah memanfaatkan sel induk yang belum berkembang atau stemcell. Metode ini diklaim dapat memperbaiki sel yang rusak dengan cepat.

Sekretaris Pokja Tim Stemcell RSUP dr Sardjito Rusdy Ghazali Malueka menuturkan penelitian masih berlangsung. Dipilihnya metode stemcell sendiri atas kajian-kajian yang telah ada. Berupa fungsi perbaikan kepada organ tubuh yang telah rusak.

“Fokusnya memperbaiki fungsi organ yang rusak, terutama paru-paru. Ada efek anti inflamasi, anti peradangan yang ditimbulkan covid. Badai sitokin penyebab perburukan bisa diatasi dengan pemberian stemcell,” jelasnya ditemui di Gedung Administrasi RSUP dr. Sardjito, Jumat (16/4).

Fungsi stemcell ini yang menjadi kunci keberhasilan terapi. Stemcell sendiri adalah sel induk yang belum berkembang menjadi sel spesifik. Perkembangannya menjadi sel jantung, sek darah hingga sel paru-paru. Setiap orang memiliki stemcell namun dalam jumlah terbatas.

Terapi ini diklaim dapat menaikan persentase kesembuhan. Terutama terhadap pasien Covid-19 bergejala berat non kritis. Terbukti dengan adanya hasil pra penelitian kepada salah satu pasien RSUP dr Sardjito.

“Dari pasien yang sudah ada, menunjukan perbaikan yang signifikan. Diberikan stemcell tapi ini diluar penelitian, ada peningkatan survival. Persentase kehidupan 2 kali lipat dan lebih cepat pulih dengan terapi stemcell,” katanya.

Pasien tersebut, lanjutnya, adalah pasien diluar masa penelitian terapi. Namun metode yang diberikan sama dengan protokol penelitian stemcell. Tindakan ini diberikan atas permintaan khusus atas kondisi tertentu.

Untuk penelitian, terapi ini menyasar 9 pasien di RSUP dr Sardjito. Tidak semua pasien mendapatkan terapi yang sama. Hal ini guna membandingkan antara pasien terapi stemcell dan non terapi.

“Ada yang kontrol dengan NaCL. Ini penetlitian double blinded, baru tahu setelah dibuka datanya. Kalau yang sembilan ini belum bisa bilang karena evaluasi 3 bulan. Sementara ini penelitian baru beberapa Minggu,” ujarnya.

Mekanisme terapi ini berbeda dengan donor konvalesen. Terapi donor konvalesen diambil dari pendonor yang telah sembuh dari Covid-19. Sementara untuk stemcell diambil dari orang normal.

Syarat menjadi pendonor stemcell adalah sehat. Dalam artian tak memiliki riwayat sakit berat. Mulai dari bebas HIV, Hepatitis hingga tuberculosis. Termasuk bebas dari Covid-19.

“Diambil dari tali pusat, kemudian dipakai dikembangkan di laboratorium untuk membelah, sehingga jumlahnya semakin banyak. Kalau syarat penerima, fungsi ginjal dan hati baik dan tidak ada riwayat kanker. Lalu Covid-19 derajat berat,” katanya. (dwi/sky)

Sleman