RADAR JOGJA – Pengobatan kepada pasien Covid-19 terus dikembangkan, misalnya terapi plasma konvalesen yang kini banyak digaungkan menjadi metode penyembuhan pasien dengan gejala berat.

Selain itu, kini juga muncul metode lain yaitu terapi stem cell bagi pasien Covid-19. Terapi stem cell sendiri berbeda dengan plasma konvalesen yang diambil dari plasma darah penyintas Covid-19.

Ketua Pokja Tim Stemcell Covid-19 RSUP dr Sardjito Samekto Wibowo mengakui tak mudah melakukan penelitian terapi ini. Alasannya adalah minimnya pasien bergejala berat di Jogjakarta. Mayoritas dominasi saat ini adalah gejala ringan hingga sedang.

Pemilihan pasien bergejala berat memiliki alasan yang kuat. Berupa proses penyembuhan yang tak optimal dalam kondisi normal. Sehingga perlu suntikan stemcell untuk memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak.

“Pasien yang memenuhi kriteria derajat berat itu sangat minim di Jogjakarta. Kebanyakan pasien yang ada itu ringan dan sedang. Sementara fokus penelitian kepada pasien derajat berat tapi belum kritis,” jelasnya ditemui di Gedung Administrasi RSUP dr Sardjito, Jumat (16/4).

Permasalahan tak terhenti disini. Dalam menjalani penelitian perlu mendapatkan ijin dari pasien dan keluarga pasien. Samekto tak menampik ada keraguan karena terapi ini masih bersifat penelitian.

Pertimbangannya adalah efektivitas terapi stemcell. Tingkat kesembuhan dan keberhasilan terapi bagi pasien. Hingga potensi mortalitas dan efek samping selama penelitian.

“Bisa dimengerti pasien atau keluarga pasien tidak bersedia ikut penelitian karena ini masih baru. Ini bisa dimengerti, sehingga kami tetap butuh persetujuan dari keluarga pasien dan pasien,” katanya.

Itulah mengapa pihaknya bekerjasama dengan tim dari rumah sakit lainnya. Sebut saja RSUP Hasan Sadikin Bandung dan RSUD Moewardi Solo. Bersama RSUP dr Sardjito, penelitian terfokus kepada pasien derajat berat non kritis.

Penelitian yang sama juga berlangsung di RSPUN dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, RS Persahabatan Jakarta dan RSPI Sulianti Saroso Jakarta. Bedanya ketiga rumah sakit ini fokus pada pasien derajat berat kritis. Berupa pasien yang menjalani perawatan dengan terpasang ventilator.

“Kalau kami derajat berat tapi non ventilator. Tapi yang pemilihan pasien tetap tidak mudah,” ujarnya.

Lebih lanjut, Samekto memastikan penelitian ini telah mendapat persetujuan BPOM. Proses pengajuan telah berlangsung sejak setahun lalu. Penelitian juga telah mengacu pada ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh WHO.

“Ijin dari BPOM tidak mudah perlu diskusi selama setahun ini. Ijinnya baru keluar, memang lama tapi itu perlukan karena BPOM teliti, cermat tidak mau menabrak aturan manapun terutama ketentuan WHO,” katanya.(dwi/sky)

Sleman