RADAR JOGJA – Tim Pengembang GeNose C19 Dian Kesuma Pramudya Nurputra menuturkan ada beberapa operator yang menggunakan GeNose C19 dengan cara yang tidak tepat. Alhasil dalam beberapa kasus sempat ditemukan positif palsu. Penyebabnya mulai dari sirkulasi udara lingkungan maupun kesiapan mesin.

Dian meminta agar operator tidak terburu-buru dalam mengoperasikan alat deteksi dini Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) ini. Untuk kondisi lingkungan wajib memiliki sirkulasi udara yang bagus. Selain itu tidak ada penggunaan hand sanitizer maupun parfum di sekitar alat GeNose C19.

“GeNose itu karena pembau jadi harus ditempatkan di lingkungan yang baik. Sirkulasi udaranya satu arah atau pasang kipas angin di belakangnya. Lalu jangan ada hand sanitizer atau parfum karena bisa terbaca positif tapi low,” jelasnya ditemui di UGM Techno Park Kalasan Sleman, Senin (12/4).

Wewangian dari hand sanitizer dan parfum dipastikan ikut terbaca mesin GeNose C19. Hanya saja kurva angka berada pada ambang deteksi positif Covid-19. Walau tetap dalam batas lemah atau kurva rendah.

Apabila tak jeli, operator bisa membaca hasil pemeriksaan sebagai positif Covid-19. Kondisi ini menurutnya akan merugikan pemilik sampel. Terbaca positif akibat gangguan pembacaan data sampel.

“Saat kurva naik terus sering tidak lihat sumbu Y. Harusnya tidak boleh hanya 1.000, harusnya lebih tinggi lagi, kalau hanya 1.000 masih itu sinyal rendah. Akibat lingkungan tidak bagus, ada parfum atau hand sanitizer di sekitar,” katanya.

GeNose C19 dapat mendeteksi kondisi udara sebelum pemeriksaan. Caranya dengan membaca data tanpa sampel. Idealnya adalah tak melebihi batas puncak maksimum 2.500 mV. Sementara kondisi udara tidak baik berkisar antara 1.750 hingga 3.000 mV.

“Ketika sumbu Y grafik tak kunjung turun ke 2500 mV, maka udara lingkungan tempat alat diletakkan disinyalir dalam kondisi terlalu banyak gas pengganggu atau oversaturasi,” ujarnya.

Pembacaan positif palsu memiliki angka yang relatif sama yaitu dibawah 0,6. Hasil evaluasi sebelumnya, positif lalu kerap berada di angka 0,45 hingga 0,55. Langkah antisipasi adalah dengan melajukan tes ulang dengan GeNose C19.
“Maka prinsip pemeriksaan GeNose apabila hasilnya positif lalu diulang itu penting sebenarnya. Apalagi untuk membaca positif lemah,” katanya.

Dian menyarankan operator melakukan flushing atau sterilisasi. Tujuannya agar GeNose C19 membaca kondisi terkini. Termasuk bertujuan memastikan sirkulasi udara di sekitar telah ideal.

Peneliti UGM ini juga menyarankan pengecekan hepa filter. Guna memastikan angka kurva tidak tinggi sebelum operasional. Tentunya agar tak ada pembacaan palsu terhadap sampel.

“Prakteknya di SOP (standar operasional prosedur) itu beberapa hal terlewatkan oleh operator dan itu untuk membuat hasilnya jadi kurang baik. Lakukan cleaning hepa filter dulu jangan langsung trabas ingin cepat pakai,” ujarnya.(dwi/sky)

Sleman