RADAR JOGJA – Masyarakat diminta tetap waspada terhadap dampak siklon tropis yang masih berpeluang terjadi di beberapa wilayah Indonesia. Termasuk di Pulau Jawa. Sebab, selain menimbulkan hujan disertai angin kencang juga menyebabkan suhu permukaan air laut meningkat di perairan selatan pulau Jawa, Bali dan Nusatenggara.
“Di Indonesia terkait evakuasi bencana angin kencang dan storm surge belum umum dilakukan. Sebaiknya mitigasi dan adaptasi mulai dikenalkan,” kata Peneliti Fakultas Geografi UGM Emilya Nurjani, Jumat (7/4).
Dia mengungkapkan, perairan selatan Indonesia, akan menimbulkan dampak yang lebih besar bagi daerah pesisir selatan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Dibandingkan dengan pesisir timur Sumatera atau pesisir Kalimantan.
Sementara, siklon tropis di bagian utara Indonesia akan menimbulkan hujan yang lebih lebat di sekitar Sulawesi dan Kalimantan. Ia menjelaskan, siklon tropis 99S yang terbentuk di sekitar laut Sawu Provinsi NTT inilah yang menyebabkan cuaca ekstrem di Pulau Timor. Merupakan bentuk formasi dari sistem badai tropis yang besar dan berkembang di atas perairan hangat dekat wilayah ekuator.
Lanjutnya, pertumbuhan siklon membutuhkan uap air hangat yang tersedia di wilayah antara 5-30 derajat di lintang utara dan lintang selatan bumi. Serta efek coriolis yang merupakan implikasi dari gerak rotasi Bumi pada sumbunya. “Efek Coriolis ini menyebabkan angin mengalami pembelokan pergerakannya. Makin besar lintangnya maka makin besar pembelokan angin yang terjadi, sehingga di daerah ekuator atau lintang nol efek ini tidak ada,” paparnya.
Dijelaskan, pertumbuhan siklon dimulai dari gangguan tropis, depresi tropis, badai tropis, dan kemudian menjadi siklon tropis. Diterangkan, pada kondisi siklon tropis, kecepatan angin mencapai 64 knot atau 74 meter per jam. Dampak yang ditimbulkan yaitu, hujan lebat, angin kencang, gelombang laut yang besar atau storm surge. “Beberapa penelitian menyebutkan wilayah terdampak sampai 50/km dari pusat siklon,” imbuhnya.
Menurutnya, sejak adanya pusat peringatan dini siklon tropis, Tropical Cyclone Warning Centre (TCWC), siklon mulai terdeteksi dengan baik. Mulai dari bibit siklon yang dapat dideteksi melalui citra satelit ataupun radar. Arah pergerakan dan kecepatannya pun bisa dideteksi. Sehingga bisa diperkirakan waktu serta kecepatan siklon tersebut tiba di daratan untuk sistem mitigasi. Namun meski prediksi siklon bisa dilakukan, masih ditemukan kesulitan karena beberapa siklon terkadang berbalik arah. Di samping itu, kesiapan mitigasi sendiri berbeda-beda di setiap daerah.”Nah, ini perlu kerjasama lebih solid, antara BMKG yang punya early warning dan Pemda yang melaksanakan mitigasi di daerah masing-masing,” kata Emilya.
Sementara itu Kepala Seksi Mitigasi Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Joko Lelono mengungkapkan, kondisi ini disebut siklon seroja. Nah, terkait ancaman siklon seroja, berdasarkan hasil rilis Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) yang terjadi di NTT kemungkinan berpotensi terdampak di Pulau Jawa. Menyikapi itu, lihaknya sudah membuat surat kesiapsiagaan yang disampaikan ke seluruh panewu di Sleman. Untuk mengaktifkan kembali unit pelaksana dan unit operasional di tingkat kapanewon dan kalurahan.
Surat itu, lanjutnya, agar kembali disosialisasikan kepada masyarakat. Khususnya mereka yang berada di wilayah rawan bencana. Agar waspada misalnya di wilayah Prambanan, ada potensi tanah longsor, mereka sudah dibekali dengan cara antisipasi. Apa bila ada ancaman agar mengungsi ke tempat saudara terdekat. “Kalau early warning system (EWS) untuk angin seperti angin puting beliung itu belum ada. Yang ada di Sleman baru EWS awan panas, banjir lahar, tanah longsor,” katanya.
Sedangkan peringatan angin kencang masih manual berbasis masyarakat. Berdasarkan pemetaan BPBD Sleman wilayah yang kerap terdampak atau berpotensi terjadi angin kencang yaitu, Kapanewon Tempel, Turi, Pakem, Mlati, Sleman, Seyegan dan Godean. “Itu sudah kita petakan. Apabila melihat tanda-tanda segera melapor,” imbuhnya. (mel/pra)

Sleman