RADAR JOGJA –  Gubernur Daerah Istimewa Jogjakarta  (DIJ)  Hamengku Buwono X menjalani  vaksin Covid-19 dosis kedua di ruang klinik Medical Check Up (MCU) di Instalasi Rawat Jalan Lantai 4 RSUP dr. Sardjito Rumah  Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Sardjito pada Sabtu (10/4) pagi.

Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan Hamengku Buwono X telah merampungkan tahapan vaksinasi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Terlihat pula Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas dalam suntikan tahap kedua ini.

Pasca vaksinasi tahap pertama dan kedua, HB X memastikan tak ada gejala kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI). Gubernur DIJ ini tetap beraktivitas seperti biasa. HB X sendiri mendapat vaksin Covid-19 sebagai kelompok lanjut usia.

“Jadi saya sudah suntik vaksin yang kedua kalinya, sudah selesai. Tidak ada kelainan yang saya rasakan dengan vaksinasi yang kedua ini. Sama-sama tidak ada masalah ya semoga tetap sehat,” jelasnya ditemui usai vaksinasi.

Dalam kesempatan ini HB X mengajak para lansia segera mengikuti vaksinasi. Menurutnya golongan lansia sangatlah rentan terpapar Covid-19. Selain faktor usia juga stamina tubuh yang mulai menurun.

HB X juga mendorong agar dinas terkait bergerak aktif. Melakukan pendataan dan edukasi tentang pentingnya vaksinasi Covid-19. Terutama kepada kelompok lansia di masyarakat.

“Harapan saya semoga bapak-ibu khususnya yang lansia, untuk bersedia untuk divaksinasi karena ini memberikan ruang kepada kita untuk punya imunitas. Biar pun kita lansia tapi memerlukan kesehatan yang memang prima untuk menjaga diri sendiri dari Covid-19,” katanya.

Vaksinasi kelompok lansia di Jogjakarta tergolong tak mulus. Sejak awal tahapan hingga saat ini baru tercapai 14,17 persen untuk tahapan pertama. Dengan hitungan angka mencapai 41.844 lansia dari data berjalan 500 ribu lansia.

Kepala Dinas Kesehatan DIJ Pembajoen Setyaningastutie tak menampik target vaksinasi lansia tak optimal. Untuk dosis kedua juga telah berjalan. Tahapan ini baru mencapai 1,58 persen dari total penerima.

“Evaluasi dari (pemerintah) pusat ada beberapa masalah untuk lansia. Pertama tidak bisa datang sendiri tanpa dibantu. Lalu ada yang enggan keluar rumah dan faktor komorbid yang membuat lebih hati-hati,” ujarnya.

Sejatinya vaksinasi lansia berlangsung di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes). Sayangnya sejak awal berjalan, metode ini kurang diminati. Terbukti dari minimnya pendaftar yang ikut suntik vaksin.

Pemilihan fasyankes sendiri atas kajian dan pertimbangan matang. Terutama zona yang aman dan sehat bagi para lansia. Apabila berlangsung dengan massal justru memiliki potensi bahaya yang cukup tinggi.

“Percepatan kedepan, kearah menguatkan peran fasyankes. Minta kabupaten kota agar setiap fasyankes fokus ke lansia. Juga edukasi ke anggota keluarga agar ikut mendampingi saat vaksinasi,” katanya. (dwi/sky)

Sleman