RADAR JOGJA – Setelah memperbolehkan salat tarawih berjamaah di masjid, di luar zona merah, Pemkab Sleman juga memperbolehkan padusan. Asal tidak sampai menimbulkan kerumunan. Itu juga dibarengi dengan prokes yang ketat.

Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo (KSP) mengatakan, padusan merupakan kegiatan yang dilakukan turun-temurun dan sifatnya sunah. Sehingga tidak etis apabila dilarang. Karena sudah menjadi budaya di masyarakat. “Karena yang melakukan padusan itu suatu sunah. Enggak boleh kalau kita menolak,” ungkap KSP, Rabu (7/4)

KSP meminta agar padusan mematuhi prokes meski dilakukan di alam terbuka. Tetap menjaga jarak, jangan sampai timbul kerumunan. Demikian juga bagi pengelola agar memberikan pengawasan dan memberikan teguran bagi pelanggar prokes. Termasuk siap dengan alat pengukur suhu badan, memakai masker, tempat cuci tangan dan jaga jarak.

Pembatasan pengunjung juga diberlakukan sebanyak 50 persen dari total kapasitas ruang atau obyek wisata (obwis). Jika fasilitas prokes sudah diaiapkan maka obwis pariwisata si Sleman boleh dibuka. Kecuali obwis radius lima kilometer dari erupsi puncak Merapi belum diperbolehkan di buka.”Pariwisata ini kan mulai divaksin semua. Vaksin ini kan menunjukkan pariwisata diperbolehkan semua tetapi tetap memakai protokol kesehatan,” ujarnya.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Joko Hastaryo, padusan yang dapat memicu kerumunan sebaiknya dihindari. Padusan bagian dari tradisi, ada yang dilaksanakan di kolam renang maupun sungai cenderung tidak memakai masker. “Tidak menular lewat air. Cuman selesai mandi, ngobrol-ngobrol itu bisa saja (tertular),” ungkapnya.

Untuk itu dia mengimbau kepada kalangan umat Islam agar padusan dilakukan di rumah saja. Jangan sampai padusan menimbulkan klaster baru.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Joko Supriyanto. Dia menghawatirkan padusan dapat memicu persebaran Covid-19. Apalagi padusan dilakukan di sungai. Menurut dia, berisiko tinggi. Mengingat saat ini masih terjadi cuaca ekstrim. Hujan lebat disertai angin kencang. Volume air di sungai sewaktu-waktu bisa meningkat. Semestinya padusan dilakukan di rumah masing-masing. “Ya kalau, wisata mau menggelar (padusan, red) monggo izin satgas setempat,” katanya. (mel/pra)

Sleman