RADAR JOGJA – Nyadran adalah salah satu tradisi dalam budaya Jawa. Tradisi itu dilakukan jelang memasuki waktu-waktu spesial, misalnya jelang bulan Ramadan.
Namun sejak adanya pagebluk korona, nyadran tak lagi seramai biasanya. Sebelum pandemi, biasanya masyarakat nyadran secara bersama-sama dengan para tetangga satu kampung.
Atau bisa juga dilakukan dengan para keluarga terdekat saja. Nyadran biasanya diisi dengan kegiatan membersihkan kuburan keluarga atau kerabat yang lebih dulu meninggal dunia. Acara ini biasanya diikuti dengan menggelar doa bersama.
Guru Besar Sosiologi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Farida Hanum menjelaskan, tradisi seperti nyadran tak begitu saja muncul. Tradisi itu memerlukan waktu yang lama, sehingga bisa terus dilakukan hingga generasi saat ini. “Sejak kecil, masyarakat kita, terutama masyarakat Jawa, sudah dikenalkan dengan tradisi ini, “ jelasnya.
Lebih lanjut dikatakan, masih banyak komunitas masyarakat yang melaksanakan nyadran. Terutama kelompok masyarakat tradisional yang masih tinggal di perkampungan atau pedesaan.
Menurut Farida, kelompok masyarakat itu masih bisa memegang teguh tradisi peninggalan leluhur. Bahkan beberapa kelompok masyarakat sudah menjadikan tradisi itu sebagai sebuah kewajiban. “Jadi seakan-akan kurang komplit jika sebuah tradisi tidak dijalankan,” katanya.
Beragam tradisi yang dimiliki masyarakat termasuk nyadran, tak bisa ditiadakan begitu saja meski situasi masih dilanda pandemi. Namun, beberapa penyesuaian juga harus dilakukan. “Misalnya ada pengawasan khusus dari Satgas Covid-19 di desa atau semacamnya,” tandas Farida.
Sebelum adanya pandemi korona, keluarga besar Alvi Kurniasih biasanya rutin melakukan nyadran. Paling tidak satu kali dalam satu tahun. Acara nyadran biasanya dihadiri oleh seluruh keluarga besar.
Namun sejak tahun lalu, nyadran yang dilakukan keluarga Alvi tidak bisa dihadiri oleh keluarga besarnya seperti biasa. “Tahun lalu malah tidak nyadran. Tahun ini ada, tapi tidak semua keluarga besar bisa hadir,” ujarnya. (kur/laz)

Sleman