RADAR JOGJA – Kasubag Tata Usaha Kanwil Kemenag Sleman Tulus Dumadi memastikan ibadah salat tarawih tetap bisa berlangsung. Hanya saja tetap ada sejumlah aturan yang wajib dipatuhi. Khususnya apabila wilayah tersebut adalah zona orange atau zona merah.

Terkait salat tarawih, Kanwil Kemenag Sleman mengacu pada Surat Edaran Menteri Agama Nomor 3 Tahun 2021. Dijelaskan bahwa tak ada larangan pelaksanaan ibadah salat tarawih. Asalkan dalam satu rumah peribadahan maksimal 50 persen dari kapasitas total.

“Dalam surat edaran Menag Nomor 3 Tahun 2021 pada dasarnya secara umum boleh ibadah tarawih dengan kapasitas 50 persen. Tapi tidak memungkiri tetap perhatikan keputusan gugus tugas Covid-19 terkait kondisi situasi zona merah atau orange,” jelasnya ditemui di Pendopo Parasamya Setda Pemkab Sleman, Selasa (6/4).

Dia meminta pengelola rumah ibadah berkoordinasi dengan gugus tugas Covid-19 setempat. Tujuannya untuk mengetahui informasi terbaru zonasi Covid-19 terbaru. Untuk kemudian diadaptasi dalam penerapan ibadah salat tarawih.

Kebijakan selanjutnya adalah tata cara ceramah. Baik untuk pengisian kuliah tujuh menit, tausyiah hingga kuliah subuh. Setiap ceramah berlangsung maksimal 15 menit.

“Intinya jangan sampai jadi klaster (Covid-19) baru. Masyarakat diimbau lebih aktif melihat situasi dan kondisinya. Prokesnya dijalankan dengan ketat,” pesannya.

Pemkab Sleman sendiri telah menerbitkan Instruksi Bupati Sleman Nomor 8 Tahun 2021. Kebijakan ini terkait penerapan zonasi Covid-19 di tingkat rukun tetangga (RT). Berupa pembaruan atas penetapan zonasi berdasarkan jumlah kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo menuturkan Instruksi Bupati (Inbup)  Sleman Nomor 8 Tahun 2021 lebih kuat. Besar kemungkinan akan muncul zona orange atau merah. Berbanding terbalik dengan berlakunya Inbup Sleman Nomor 7 Tahun 2021.

“Sampai kemarin masih gunakan Inbup nomor 7, merah diatas 10 kasus. Muncul 6 sampai 10 kasus memang tidak ada tapi kalau pakai Inbup baru perkiraan kami akan ada merah maupun yang orange,” katanya.

Data ini tentunya dapat menjadi pertimbangan pelaksanaan salat tarawih. Terlebih jika muncul zona orang atau merah pasca pendataan baru. Sehingga rumah ibadah tidak dibuka sebagai wujud penerapan kebijakan.

Joko juga mendorong agar Gugus Tugas Covid-19 tingkat Kalurahan bergerak cepat. Terutama dalam menetapkan zonasi Covid-19. Harapannya agar warga dapat beribadah dengan aman dan nyaman di wilayahnya masing-masing.

“Puasa tanggal 13 April, maka kami terbitkan terakhir 12 April bagaimana zonasi tingkat RT. Akan sesuaikan apakah rumah ibadah dibuka atau tidak. Lalu 7 hari kemudian harus ada pembaruan zonasi,” ujarnya.

Disatu sisi Joko tak menampik adanya kendala. Terutama kecepatan dalam menetapkan zonasi. Saat ini wewenang menerbitkan zonasi berada di posko Covid-19 Kalurahan.

“Ada koordinasi Dinas PMK lalu supervisi Bagian Pemerintahan yang mengarahkan dari Kapanewon. Nanti akan dibantu Puskemas untuk penerbitan zonasi. Mudah-mudahan bisa lebih cepat,” ujarnya.(dwi/sky)

Sleman