RADAR JOGJA – Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo belum mengamini wacana vaksinasi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) berlangsung malam hari. Pertimbangannya adalah keterbatasan sumber daya manusia fasilitas pelayanan kesehatan. Terutama dari unsur Puskemas di setiap wilayah.

Mantan Dirut RSUD Sleman ini tak menampik ada kekurangan tenaga kesehatan jika vaksinasi berlangsung malam hari. Khusus untuk Puskemas, pelayanan berlangsung di pagi hari. Berbeda dengan rumah sakit yang menerapkan sistem shift.

“Kendalanya itu jelas SDM, terutama untuk Puskesmas hanya kerja di pagi hari. Kalau rumah sakit ada shift pagi dan sore, jadi terbuka kemungkinan bergantian,” jelasnya ditemui di Pendopo Parasamya Setda Pemkab Sleman, Selasa (6/4).

Untuk itu, Joko mempersilakan jika rumah sakit melakukan insiatif vaksinasi malam hari. Hanya saja dia tetap meminta pertimbangan efektivitas. Terutama waktu yang tepat untuk menjalankan program vaksinasi.

“Rumah skait kami persilakan masing-masing kalau mau memberikan pelayanan malam hari, tapi secara teknis dari Magrib ke Isya itu pendek sekali. Itu tidak memungkinan. Tapi kalau secara teknis rumah sakit bisa, silakan,” katanya.

Secara umum pelaksanaan vaksinasi di Kabupaten Sleman berlangsung normal. Tetap berlangsung di fasilitas pelayanan kesehatan setiap wilayah. Khususnya di 25 Puskemas dan 22 Rumah Sakit.

Perbedaannya adalah teknis pelaksanaan nya. Selama bulan Ramadan, Dinkes Sleman tidak menyelenggarakan vaksinasi massal. Semua berlangsung reguler di setiap puskemas dan rumah sakit tertunjuk.

“Vaksinasi seperti biasa tapi tidak ada massal selama Ramadan. Puskemas perhari bisa 100 orang kalau rumah sakit bisa 125 orang. Puskesmas dari Senin sampai Kamis kalau rumah sakit itu tergantung kebijakan masing-masing, ada 1 sampai 3 kali dalam seminggu,” ujarnya.

Tentang hukum vaksinasi saat Ramadan, Joko telah berkoordinasi dengan Kanwil Kemenag Sleman. Hasilnya tak ada permasalahan pelaksanaan vaksin selama puasa. Hanya saja tetap ada pengawasan terhadap dampak pasca vaksinasi.

“Pemahaman saya, puasa itu nawaitu niat ingsun sepeti apa. Kalau niatnya iman keyakinan tidak masalah. Secara medis katanya menyebabkan lapar tapi puasa kan memang menahan hawa nafsu salah satunya makan. Karena hakekatnya puasa kan seperti itu,” katanya.(dwi/sky)

Sleman